jump to navigation

Sayangilah Manusia, Sayangi Juga Syaithan … August 27, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in Uncategorized.
1 comment so far

Celoteh ini hanyalah sebuah intermezo di pagi menjelang siang hari. Isinya tidak terlalu penting. Tapi, cukup menarik untuk dijadikan bahan perenungan; buat saya dan anda semua.

Jika judul celoteh ini agak kontroversi, bukan karena ini untuk memancing kontroversi, melainkan semata untuk menukik langsung ke jantung tema celoteh ini. Begitulah, temanya memang itu.

Tentu ada dong asbab al-nuzul (latar) di balik celotehan ini, yang temanya rada-rada kurang populer di mata banyak orang. “Syaithan kok disayang?” begitu kira-kira bayangan saya tentang teman-teman yang tiada setuju judul celotehan ini.

Ini saya kutip dari cerita seorang kakak ipar, yang sudah belasan kali bercerita tentang kakeknya yang sepertinya “orang sakti”, dalam terminologi komunitas paranormal dan bidang metafisika. Bahkan, si “orang sakti” itu pernah diminta Permadi, SH menjadi Dewan Penasehat sebuah perhimpunan paranormal. Terlepas, dari saya sepakat atau tidak dengan dunia metafisika, saya tetap percaya: pasti ada hal yang bisa dipelajari dari mereka.

Si “orang sakti”, yang kakek ipar saya itu kini telah almarhum. Dia pernah menjadi petinggi di Bimantara di era 1990-an. Dia juga pernah dipanggil “uwak” oleh Tommy Suharto (bahkan, yang saya dengar, pernah dibelikan mobil juga oleh Tommy). Sejatinya, ia adalah seorang purnawirawan Polisi, juga veteran perang kemerdekaan.

Sangat panjang lebar, jika harus mengurai asal muasal ia berinteraksi dengan dunia metafisika. Namun, yang menarik untuk diuraikan tentang orang ini adalah “pendekatannya” menjelaskan fenomena-fenomena metafisika secara logis. Bahkan, dalam ilmu kesehatan.

Ia seorang yang sangat santun. Piawai mengobati penyakit, hanya jika diminta. Jika tak diminta, ia tak mau. Tentu saja, semua itu for free. Tanpa bayaran. Toh, ia sudah cukup mapan sebagai perwira polisi.

Hingga suatu ketika, cucunya, yang ipar saya itu bertanya ketika sang kakek tampak berbicara sendiri: “tadi bicara dengan siapa?”

“Oooo, itu makhluk metafisik yang sedang sedih. Kakek diminta berdoa supaya masalahnya cepat selesai,” jawabnya.

“Itu setan, ya, Kek?” tanya si cucu.
“Terserah kamu mau sebut apa. Yang jelas dia makhluk Tuhan,” jawab si kakek.

Usai peristiwa itu, sang Kakek pun memberi wejangan kepada cucu, yang kini ipar saya itu.
“Berbaik-baiklah kamu kepada semua makhluk Tuhan. Bahkan, kepada syaithan pun, Kakek menyayangi mereka,” pesan si Kakek.

Sungguh, pernyataannya bukan semata tesis puitis, yang bermakna konotatif. Tapi, kemungkinan besar, denotatif.

Terlepas, ini kontroversi atau tidak; logis atau tidak; yang jelas secara filosofis kata-kata itu perlu dicermati.

Tentu sangat sulit untuk mempraktikkannya. Lha wong kebanyakan dari kita (termasuk saya) masih suka misuh-misuh (menyumpahserapahi, menghardik) musuh kita atau orang yang sedang bertikai dengan kita. Apalagi dengan syaithan?

Diskusi intensif tentang post ini di multiply.com bisa anda baca di link ini: BACA DI MULTIPLY.COM

Pola Akhir Pekan Masyarakat Jakarta March 10, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in Uncategorized.
add a comment

 

weekend36bgif.jpg

Akhir pekan lalu, setelah hari Jum’at bertepatan dengan tanggal merah, libur panjang kembali datang. Akhir pekan pun menjadi tambah panjang. Masih terkait dengan konteks akhir pekan, ternyata orang Jakarta paling senang menghabiskan waktu di dalam rumah. Jika pergi ke luar rumah, mal dan pusat perbelanjaan ternyata lebih menarik untuk dikunjungi daripada sanak kerabat.

Kesimpulan tersebut terangkum dari hasil survei yang dilakukan Kompas terhadap warga Jakarta, yang tulisan tentangnya dimuat di Kompas pada awal Februari 2008 lalu. Meski bukan gambaran umum keseluruhan warga Jakarta, setidaknya hasil ini mengungkapkan aktivitas kekerabatan yang tampak kalah penting dibandingkan aktivitas jalan-jalan ke mal atau sekadar berdiam di rumah. Bahkan, sekitar satu dari tiga (36,0 persen) responden mengakui bahwa di keluarganya jarang atau malah tidak pernah diadakan kumpul kerabat. Bagi keluarga kota besar, seperti Jakarta, yang cenderung menyendiri, keluarga besar dan kerabat mungkin hanya mereka butuhkan dalam situasi butuh pertolongan. Dalam survei ini, sebagian (36,9 persen) responden Jakarta mengakui jarang atau bahkan tidak pernah mengunjungi orangtuanya.

Kesibukan kota besar, seperti Jakarta, sering kali menjadi penyebab mengikisnya hubungan orangtua-anak. Karena selain alasan jarak, kesibukan adalah alasan yang paling banyak menjadi dalih. Pilihan untuk tinggal di rumah dan tidak ke mana-mana pada akhir pekan bisa jadi merupakan wujud kebutuhan penduduk kota besar untuk beristirahat setelah sepekan didera kesibukan. Tetapi, ini juga bisa berarti sebagai pilihan untuk menarik diri dan masuk dalam kesepian dari berbagai hubungan sosial luar rumah seperti kekerabatan.

Robert Weiss (1973) membedakan dua tipe kesepian karena hilangnya hubungan sosial yang dialami oleh seseorang. Pertama adalah kesepian emosional, disebabkan hilangnya hubungan kasih sayang yang dekat seperti yang diberikan orangtua atau pasangan. Yang kedua adalah kesepian sosial, disebabkan hilangnya rasa terintegrasi secara sosial. Lewat hubungan dengan sebuah kelompok atau komunitas, kebutuhan akan rasa terintegrasi sosial ini bisa dipenuhi.

Bisa terjadi seorang mengalami satu tipe kesepian tanpa mengalami yang lain. Sebuah keluarga muda di Jakarta mungkin tidak merasakan kesepian emosional karena mereka masih merasa saling memiliki. Tetapi mungkin mereka mengalami kesepian sosial karena miskinnya aktivitas sebagai bagian dari sebuah komunitas yang lebih besar.

Sejauh-jauhnya manusia urban jadi kesepian dan terasing, entah karena keadaan atau karena pilihan, tak pelak, kerabat, terutama orangtua, akan jadi tempat ke mana mereka akan ”pulang”. Hasil survei ini sendiri juga menunjukkan, jika ada acara kumpul kerabat, seperti kumpul keluarga besar, sebagian besar responden (68,7 persen) mengaku masih menyempatkan diri untuk datang. Hanya saja, kegiatan bersama kerabat ini buat sebagian besar orang bukan menjadi prioritas dalam waktu luang mereka.

Bagaimana dengan Anda? Atau jangan-jangan, memilih tidur seharian di rumah? Hahahahahahaha………………………