Three Cups of Tea: Sebuah Kisah Inspiratif dari Greg Mortenson November 18, 2008
Posted by sofwan {kalipaksi} in Moslem Litherary, motivasi, pluralisme.add a comment
Persahabatan Mortenson dan Haji Ali, tetua Desa Korphe, menunjukkan betapa kerjasama antara dua budaya dan agama berbeda bukanlah suatu yang mustahil sebagaimana difatwakan oleh Samuel Huntington maupun sebagian ulama Islam, dua kubu yang sama-sama berpikiran sempit serta penuh curiga.”

“Tiga Cangkir Teh” berisi cerita inspiratif, penuh pesan perdamaian dan relevan dibaca di tengah kisruh politik-militer Amerika di Afghanistan belakangan ini.
Buku ini merupakan memoir Greg Mortenson, seorang pendaki gunung Himalaya yang berubah jadi aktivis sosial, dan ditulis seperti novel oleh wartawan Oliver Relin.
Pada 1993, Mortenson, pendaki dari Montana, Amerika Serikat, terdampar di sebuah desa miskin perbatasan Pakistan-Afghanistan, setelah gagal mencapai puncak K2, salah satu gunung tertinggi Himalaya. Tergerak oleh keramahtamahan penghuni desa, Mortenson berjanji kembali ke desa itu untuk membangun sebuah sekolah.

Selama lebih dari satu dekade kemudian, Mortenson tak hanya membangun satu, tapi 55 sekolah–terutama bagi anak perempuan–di kawasan miskin yang merupakan “kawah candradimuka” Taliban. Lewat organisasi yang kemudian dia dirikan, Central Asia Institute, Mortenson tinggal selama beberapa bulan di negeri jauh itu setiap tahunnya; membangun sekolah satu demi satu.
Mortenson memulai semuanya dengan tekad sederhana dan kesendirian. Dia bukan orang kaya. Dia berumah di sebuah gudang di Montana, yang karena kemiskinannya dia ditinggalkan sang pacar. Mortenson juga sempat disekap beberapa hari oleh sebuah kelompok Muslim, dan sempat terpikir mati. Namun, keteguhannya memegang janji membuat Mortenson rela menghadapi semua rintangan.
Memulai hampir tanpa uang sepeserpun, Mortenson memperoleh dana pertama sekitar US$ 600, yang terkumpul dari penjualan barang-barang bekas oleh siswa-siswa sekolah menengah di kotanya. Padahal, yang dia butuhkan sekitar US$ 12,000 untuk satu sekolah di kaki Himalaya. Tapi, kegigihan dan sikap tulus yang membuat dia belakangan tak kekurangan uang untuk membangun lebih banyak sekolah. Dana belakangan datang dari berbagai kelompok Kristen, Yahudi dan Muslim Amerika, termasuk pula dari sebuah klub lesbian.

Mortenson tahu, kemiskinan merupakan satu faktor utama mengapa Muslim yang sebenarnya ramah di kawasan itu bisa berubah menjadi radikal. Dan sekolah yang lebih terbuka, tak hanya mengajarkan agama melainkan pengetahuan umum, diperlukan untuk menghadapi kesulitan hidup dan cara memandang dunia dengan lebih optimistik.
Dengan caranya sendiri, Mortenson memenangkan “hati dan pikiran” Muslim Pakistan-Afghanistan, yang tidak pernah bisa dicapai oleh Pemerintahan George Bush. Alih-alih mendekatkan dua dunia berbeda, serangan militer dan demonisasi Muslim yang dilakukan Pemerintahan Bush justru memunculkan lebih banyak lagi radikalisme.
Kisah sukses Mortenson pada saat yang sama mencerminkan kisah kegagalan Pemerintahan Amerika dalam memahami Muslim Afghanistan-Pakistan; jika mereka memang benar ingin memahami, bukannya menguasai dan mengeksploitasi sumber alamnya.
Persahabatan Mortenson dan Haji Ali, tetua Desa Korphe, menunjukkan betapa kerjasama antara dua budaya dan agama berbeda bukanlah suatu yang mustahil sebagaimana difatwakan oleh Samuel Huntington maupun sebagian ulama Islam, dua kubu yang sama-sama berpikiran sempit serta penuh curiga.
“Menjadi adat di sini, kami minum tiga cangkir teh dalam pergaulan,” kata Haji Ali, ketua Desa Korphe. “Cangkir pertama Anda masih orang asing, cangkir kedua Anda menjadi teman, dan cangkir ketiga Anda bergabung menjadi keluarga kami, dan demi keluarga kami siap untuk melakukan apa saja–termasuk mati.”
“The first time you share tea with a Balti, you are a stranger. The second time you take tea, you are an honored guest. The third time you share a cup of tea, you become family, and for our family, we are prepared to do anything, even die.” — Haji Ali, Three Cups of Tea, page 150
foto: www.threecupsoftea.com, NICHOLAS D. KRISTOF
Lebih Dekat dengan Firman TelaKrezz August 28, 2008
Posted by sofwan {kalipaksi} in corat-coret, motivasi.1 comment so far

Di antara teman-teman sekalian tentu sudah pernah ada yang melihat “iklan politik” Sutrisno Bachir versi baru, yang juga menampilkan sosok-sosok inspiratif seperti Bidang Apung, Hj. Rabiah dan anak muda pendiri waralaba snack singkong TelaKrezz asal Yogyakarta bernama Firman. Yupz, itu dia, yang digadang-gadang omset usahanya mencapai Rp 2 miliar per bulan!!!
Semalam, kebetulan, dalam sebuah acara saya sempat makan bareng satu meja di sebuah restoran masakan Padang di kawasan sekitar Jalan Sabang. Kesan saya atas dirinya, sangat bersahaja, ramah, dan jauh dari kesan “sombong” lantaran sedang naik daun gara-gara iklan itu. Malam itu, Firman ditemani Ahmad Intihan, yang Area Representatif TelaKrezz wilayah Jakarta.
“Mas, sejauh mana dampak iklan itu terhadap usaha anda?” tanya saya.
“Ada, meskipun secara tidak langsung. Sempat membuat kewalahan juga sih,” jawab pemuda yang baru berusia 26 tahun ini.
Memang, Firman bukan orang “ndeso” yang sukses mengemas ketela/cassava yang terkesan ndeso menjadi komoditas jualan makanan renyah, yang ternyata sangat menjanjikan.
Tapi, ada satu hal yang membuat saya terkesan dengan pemuda jebolan UGM ini. Yakni, ketika ia bercerita tentang dampak turunan dari usaha gerainya di kawasan poros Jalan Margonda Depok. Agen TelaKrezz di Margonda itu dikelola oleh seorang mahasiswa, dengan omset yang lumayan oke, rata-rata Rp4,5 juta per hari.
“Bukan semata nilai omset yang membuat saya bahagia. Namun, ternyata TelaKrezz di Margonda menginspirasi banyak mahasiswa untuk membuka usaha. Para mahasiswa itu belajar bahwa ternyata sebuah komoditas usaha yang sederhana bisa berkembang jika dikelola secara profesional,” ungkapnya.
Nah, jika anda ingin membaca story lengkap tentang usaha Firman, silakan klik link ini: Firman dan Pola Waralaba “Snack” Singkong sebuah kisah tentang Firman yang pernah dimuat di Harian KOMPAS.




