jump to navigation

Masjid Al-Azhar: Dibangun Syiah, Digunakan Sunni August 22, 2007

Posted by sofwan {kalipaksi} in masjid, pluralisme, sunni, syiah.
Tags: ,
6 comments

al-azhar-masjid.jpg

Pada abad ke sepuluh masehi, perpecahan kekhilafahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad menimbulkan faksi-faksi. Kaum Syiah yang tadinya menjadi mitra Bani Abbasiyah dalam menggusur Dinasti Umayyah berbalik melakukan oposisi terhadap pemerintah Abbasiyah di Baghdad. Penyebabnya, mereka kerap kali dikecewakan oleh kebijakan Bani Abbasiyah setelah mereka berkuasa. Sementara Bani Abbasiyah semakin melemah, gerakan politik religius kaum Syiah justru sedang mengalami perkembangan yang sangat cepat.

Pusat perjuangan kaum Syiah dalam oposisinya terhadap Baghdad tidak menetap pada satu daerah, melainkan berpindah-pindah. Hingga ketika mereka mengangkat Abu Ubaidillah al-Mahdi sebagai pemimpin, dikirimlah seorang misionaris Syiah ke Afrika Utara. Misinya berhasil menggalang penduduk Barbar dan daerah Ifriqiya (sekarang Tunisia).

masjid-al-azhar-5.jpg

Di tempat itulah Abu Ubaidillah, yang ‘digadang-gadang’ punya garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad, berhasil meluaskan pengaruhnyaSelanjutnya, Ubaidillah al-Mahdi, anak dari Abu Ubaidillah al-Mahdi, diangkat menjadi imam Syiah menggantikan ayahnya yang telah wafat. Bahkan, pasukan Barbar yang menjadi penyokongnya mengangkat Ubaidillah sebagai Khalifah tandingan pada tahun 909 masehi. . Maka berdirilah kekuasaan baru di Kairouan, ibukota Ifriqiya. Pada tahun 921, Ubaidillah memindahkan pusat kekuasaannya ke Kota Mahdiya, sebuah kota baru yang didirikannya. Di sanalah Dinasti Syiah Ismaili mulai dikembangkan.

Pada masa pemerintahan dinasti Fatimiyah, Syiah menyebar dan bergerak sangat cepat. Pada tahun 969 masehi, pengaruh Dinasti itu sampai juga ke tanah Mesir. Setahun kemudian, bahkan berhasil melebarkan pengaruh hingga ke Damaskus. Dengan pengaruh yang hebat di dua pusat peradaban muslim zaman itu tadi sebagian besar wilayah dunia Islam seakan-akan siap menjadi daerah kekuasaan kaum Syiah.

Kehadiran Dinasti Fatimiyah di Mesir ternyata membawa banyak hal positif. Salah satunya, mereka dianggap berhasil menjadikan Mesir sebagai pusat kekhilafahan kaum Syiah dan menjadikan Kairo (al-Qahirah yang berarti kemenangan) sebagai ibukota negara yang baru pada tahun 973 masehi.

Selama masa pemerintahan dinasti itu, bangsa Mesir pun mengalami kemakmuran yang luar biasa: salah satunya mampu menggairahkan kembali kehidupan seni dan berarsitektur di negeri itu. Salah satu karya agung yang dibangun oleh mereka salah satunya Masjid Al-Azhar.

Nama al-Azhar mulai dikenal ketika Khalifah al-Muizz li Dinillah (953-975) memerintahkan Panglima Jauhar al-Katib al-Siqilli untuk meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Jami’ al-Qahirah (Kairo). Setelah usai dibangun masjid itu pun berganti nama menjadi Masjid Jami’ al-Azhar, yang dinisbahkan dari nama Fatimah as-Zahra, putri Nabi yang menjadi istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Selain itu, Al-Azhar juga punya arti bunga, yang kemudian menjadi simbol dari ‘kemegahan’ peradaban muslim Kairo ketika itu.

DESAIN ARSITEKTURAL

masjid-al-azhar-3.jpg

Masjid ini memiliki pelataran besar berbentuk persegi panjang yang dikelilingi oleh rangkaian portico. Seperti halnya Masjid Umayyah di Damaskus, ternyata tiang-tiang kolom di masjid ini juga memanfaatkan kembali kolom-kolom kuno untuk menunjang arcade (atap lori) yang terbuat dari bata-bata yang sudah dilapisi dengan plesteran semen.

Arcade tersebut memiliki banyak lengkungan. Desain teknis dan perbandingan antarlengkungannya sangat mengagumkan. Bahkan, ada yang menyebutnya energetik, maksudnya ada kesan masif yang ditampilkan oleh pola lengkungan yang semakin yang meninggi, dengan rekatan berbahan plester yang sangat halus.

Berbeda dengan pola lengkungan di Damaskus, dan Cordoba yang mempunyai khas lengkungan berbentuk seperti tapal (sepatu kuda). Lengkungan-lengkungan (arc) pada desain masjid ini agak ramping, seperti kebanyakan pola lengkungan di sebagian besar masjid-masjid yang ada di Mesir. Nah, untuk mengurangi kesan terlalu ramping itu, para arsiteknya meletakkan tiga kolom sekaligus pada setiap sisi pintu masuk bangunan masjid di pelataran (lihat gambar). Sementara itu, pada dua sudut antara dinding pelataran dan arcade diletakkan dua kolom sekaligus.

Pelataran masjid berukuran 50 kali 34 meter: di sana terdapat empat fasade yang dihiasi hiasan dekoratif. Hiasan dekoratif itu, pada bagian atasnya bermotifkan daun, yang mempunyai cerukan langsung di atas kolom-kolom. Kemudian hiasan rosette besar diletakkan di puncak arcade yang mengelilingi pelataran. Ada pula balkon yang cukup lapang sehingga memudahkan bagi kita untuk memandang ke segala arah.

al-azhar3.jpg

Gaya dekoratif pada Masjid Al-Azhar sebagian besar mengikuti gaya yang terdapat pada Masjid Ibn Tulun. Kemudian, model ornamentasi dan penggunaan batanya mengikuti gaya Mesopotamia yang dibawa ke Mesir oleh Ibn Tulun. Sementara itu, cara-cara Dinasti Umayyah yang kerap kali memanfaatkan kembali material-material kuno juga diikuti oleh arsitek Masjid Al-Azhar ini.

Masjid Al-Azhar mempunyai hall di bagian dalam dengan tipologi yang sangat sempurna untuk sebuah prolog pelataran ibadah ritual, dengan lima lajur menghadap ke arah kiblat. Ruangannya juga menerapkan pola hypostyle dengan langit-langit kayu datar yang ditopang oleh kolom-kolom tadi. Sepertinya, hal ini meniru gaya yang diterapkan pada Masjid Amr di Kairouan.

Suasana di dalam ruangan masjid beratmosfer redup. Keredupannya itu melintasi dinding-dinding plester yang ada. Selain itu, hall ini menawarkan sesuatu yang baru yang lebih besar: mirip pusat ruangan utama pada basilika, yang dibatasi oleh dua buah barisan kolom yang tegak lurus terhadap mihrab. Hal ini juga terdapat pada masjid Ibn Tulun. Sementara itu, pelataran masjid memberikan impresi yang lebih khidmat. Dengan demikian menjadikannya menyatu dengan seluruh kompleks bangunan masjid.

Masjid ini pernah mengalami beberapa kali perluasan, di antaranya teras pintu masuk masjid di sebelah utara yang mengalami modifikasi total. Juga, penambahan menara oleh penguasa Mamluk.

Setelah kejatuhan Dinasti Fatimiyah, masjid ini lalu dijadikan sebagai kampus untuk universitas ternama dalam kekhilafahan Sunni: Universitas Al-Azhar. Namun, sesungguhnya lembaga pendidikan di al-Azhar itu diresmikan oleh khalifah Muizz li Dinillah, yang Syiah. Jadi, kaum Sunni hanya melanjutkan saja kegiatan pendidikan yang sudah dirintis oleh Dinasti Fatimiyah. Semula, ide membuat lembaga pendidikan itu adalah untuk mengembangkan keilmuan dalam mazhab Syiah Ismailiyah. Namun, kemudian berkembang menjadi sebuah universitas.

Selama hampir satu abad (1171-1267 masehi) Masjid al-Azhar pernah sama sekali tidak digunakan untuk pelaksanaan shalat Jum’at. Hal ini karena, khalifah Shalahuddin al-Ayyubi–

al_azhar-masjid-2.jpg

Panglima laskar yang berhasil menurunkan khalifah Fatimiyah terakhir: al-Adid, pada tahun 1171 masehi—menginstruksikan pemusatan shalat Jum’at di Masjid al-Hakim hingga salah seorang penguasa Dinasti Mamluk, Amir Izzuddin Aidmur al-Hilli mengaktifkan kembali shalat Jum’at di Masjid al-Azhar.

Walaupun di masa Dinasti Ayyubiah, lembaga dan masjid al-Azhar tidak banyak berperan, kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan di al-Azhar tetap berjalan dengan swadaya dan simpati tokoh-tokoh pendidikan. Bahkan, banyak pelajar yang datang berduyun-duyun ke al-Azhar.

Barulah ketika Dinasti Mamluk berkuasa, al-Azhar diaktifkan kembali. Bahkan, menjadi pusat berkumpulnya para cendekiawan muslim dari Cordoba yang sedang mengalami perang dengan tentara Tartar. Salah satu dari mereka di antaranya Ibnu Khaldun, filsuf dan ahli sejarah yang datang pada tahun 1382 masehi untuk mengajarkan hadits serta fiqih Imam Malik.


Masjid ini menjadi bukti adanya rasa persamaan di antara perbedaan: bahwa walaupun dibangun oleh kaum Syiah, namun akhirnya difungsikan menjadi pusat ilmu pengetahuan oleh kelompok Sunni. Para pendahulu mereka telah membuktikan makna persamaan itu belasan abad silam. Sunni atau Syiah, adalah Islam. So, jangan pernah didikotomikan.

Masjid Cordoba: Disempurnakan Dua Abad August 21, 2007

Posted by sofwan {kalipaksi} in Moslem Litherary, masjid.
1 comment so far

by: sofwan{kalipaksi}

masjid-cordoba.jpg

 

Suatu ketika, pada tahun 750 masehi, ketegangan antara pemerintah Bani Umayyah di Damaskus dengan kaum Bani Abbasiyah tak lagi terbendung. Puncaknya adalah pengambilalihan kekuasaan ibukota kekhilafahan Umayyah di Damaskus, Syiria. Pada saat itu, Bani Abbasiyah berhasil memang mengambil alih kekuasaan dari Khalifah al-Marwan II dan memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad tapi salah seorang anggota keluarga khalifah, Abdul Rahman, berhasil melarikan diri ke Afrika Utara, dan menyeberang ke utara menuju daerah Mediterania.

Bahkan, 35 tahun kemudian si pelarian itu berhasil menghidupkan kembali kekhilafahan Umayyah di Spanyol, di sebuah sudut kawasan Mediterania. Nah, 39 tahun sebelum pengambilalihan itu (711 masehi), Bani Umayyah telah berhasil menguasai Spanyol, yang waktu itu disebut dengan Andalusia. Kata Andalusia sendiri berasal dari kata Vandal, suku bangsa asli yang tinggal di sana.

Waktu itu, kerja sama yang apik antara Jenderal Thariq bin Ziyad, sang penguasa Tangier dan seorang bekas letnan yang kemudian melonjak menjadi Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nusair berhasil melumpuhkan Roderick, yang baru satu tahun berkuasa (710 masehi) di Kerajaan Visighot (nama kerajaan di Spanyol saat itu). Selain didukung 12.000 pasukan Islam dari suku Barbar, Afrika Utara, Thariq juga berkoalisi dengan pasukan Akhila (yang kristen), penguasa Kerajaan Visighot sebelum Roderick berhasil melakukan kudeta terhadapnya.

Sementara itu, Musa bin Nusair membawa 18.000 pasukan untuk menguasai kota-kota utama di semenanjung Iberia (Spanyol) melanjutkan kemenangan Thariq. Sejak itulah, duet Thariq dan Musa mampu mengubah wajah Andalusia menjadi bersinar dengan cahaya Islam. Apalagi, para pengikut Raja Akhila dengan tulus ikhlas menerima penguasa baru dari tanah Arab yang berkuasa hampir delapan abad lamanya itu.

Empat puluh empat tahun kemudian (755), giliran Abdul Rahman, pemuda yang berhasil lolos tadi, memerintah Andalusia yang telah menjadi sebuah keemiran yang independen. Berkat bantuan sekutu-sekutu Umayyah-nya yang tinggal di sana, ia berhasil menjadi emir setelah berjuang selama lima tahun, sejak terusir dari Damaskus.

Setelah berhasil menguasai kota Seville, ia pun lalu memasuki Cordoba dan menjadikannya sebagai sentral pemerintahan Umayyah yang baru. Bahkan, ia kemudian memisahkan Spanyol dari bagian Kekhilafahan Abbasiyah dan memproklamasikan kekhilafahan baru. Ia menyambung benang merah sejarah yang telah mencatat bahwa Bani Umayyah merupakan pihak yang pertama kali mengislamkan penduduk tanah Andalusia.

Selama 33 tahun pemerintahannya, Abdul Rahman menjadikan Cordoba sebagai pusat pemerintahan. Pada tahun 785, Abdul Rahman merancang sebuah rancangan masjid besar yang akan menjadi salah satu masterpiece arsitektur klasik Islam terbesar di daratan Eropa. Masjid itu terkenal dengan sebutan Masjid Cordoba.

Pada awalnya Abdul Rahman hanya membangun masjid seluas 70 meter firkan (m²) bangunan di atas tanah seluas 5.000 meter firkan yang berbentuk pelataran (mengikuti tradisi bangunan Islam lainnya). Hall hypostyle ini memiliki sebelas ruangan besar yang tegak lurus terhadap arah kiblat. Tiap-tiap ruangan itu dipisahkan atau dibatasi oleh 11 deretan arcade yang atapnya mempunyai lengkungan-lengkungan. Setiap deretan mempunyai 11 tiang kolom sehingga masing-masing ruangan seolah-olah memiliki 20 tiang kolom.

masjid-cordoba-4.jpg

masjid-cordoba3.jpg

Jumlah tiang-tiang kolom itu seluruhnya 110 tiang kolom. Tiang-tiang kolom tersebut merupakan tiang-tiang antik zaman Romawi, yang disimpan Kerajaan Visighot semasa kerajaan itu menjadi sekutu Romawi (saat berkuasa). Hal ini mirip dengan apa yang dilakukan Khalifah al-Walid, leluhur Abdul Rahman. Tatkala membangun Masjid Damaskus, Abdul Rahman mendatangkan batu-batu pualam dari Narbonne, Seville dan Konstantinopel (sekarang Istambul).

Kini, panjang Masjid Cordoba dari utara ke selatan 175 meter dan lebarnya dari timur ke Barat 134 meter. Sedangkan tingginya mencapai 20 meter. Tidak semua bangunan diberi atap. Ada bagian-bagian tertentu yang sengaja dibuat terbuka agar cahaya dan udara segar bisa masuk ke dalam masjid. Bahkan, cahaya yang masuk dibuat sedemikian sehingga langsung masuk ke ruang shalat pratama (utama), yang atapnya dibuat dari kayu-kayu pilihan.

Pada masa pemerintahan Hisyam I (788-796) dan juga al-Hakam I (796-822), Masjid Cordoba sama sekali tidak mengalami modifikasi. Barulah ketika masa Abdul Rahman II (822-852), dilakukan perluasan yang pertama: menambah jumlah tiang kolom di ruangan berbentuk gaya hypostyle tersebut menjadi 200 tiang kolom.

Pada saat pelaksanaan konstruksi, antara tahun 832 hingga 848 masehi diagendakan kegiatan konstruksi untuk menggeser penunjuk arah kiblat sedikit ke arah tenggara sehingga bangunan menjadi menghadap ke Ka’bah. Namun, jumlah ruangan besar, yang ada sebelas itu, tidak dirubah meski agak mengalami perluasan.

Delapan tahun kemudian, Khalifah Abdul Rahman III (912-961), yang memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah pada tahun 929, melakukan perluasan babak kedua. Khalifah memperluas aula pada sektor barat daya dan membangun sebuah menara segi empat setinggi 34 meter pada tepi halaman pelataran. Beberapa tahun kemudian, al-Hakam II (961-976) melanjutkan modifikasi atas masjid dengan memberikan sentuhan monumental: mengubah bentuk ruang shalat di depan mihrab dari ruang terbuka biasa menjadi satu lajur yang membujur. Lebarnya masih 70 meter, namun panjangnya menjadi 115 meter dengan 320 tiang kolom.

Abdul Rahman III juga merobohkan menara yang dibangun oleh Khalifah Hasyim I dan menggantinya dengan menara baru yang lebih tinggi dan lebih mewah. Pembangunannya menggunakan tenaga al-Muntasir, seorang ahli mosaik dari Konstantinopel. Dengan demikian, maka saat itu terdapat 32 lorong dan sebuah mihrab di bawah atap kupola (atap kubah) berbentuk segi delapan yang lebih tinggi dari tiga kupola lain yang letaknya berhadap-hadapan satu sama lain. Karakter inilah yang menjadi kekhasan karakter asli Masjid Cordoba.

Di muka mihrab terdapat empat tiang yang berseberangan: dua di antaranya terbuat dari batu pualam berwarna hijau dan yang dua lagi berwarna biru langit. Dalam ruang mihrab ini dibuat tujuah buah arcade (semacam lorong beratap) yang ditopang oleh tiang-tiang yang mempunyai kapitel berhiaskan ornamen timbul yang sangat halus buatannya. Di sebelah kiri mihrab terdapat khazanah: ruangan tempat menyimpan harta kekayaan masjid.

masjid-cordoba6.jpg

 

Mimbar masjid, pada mihrab, terbuat dari bahan-bahan yang mahal harganya. Bahkan, pembuatannya saja memakan waktu tujuh tahun. Di bagian utara ruangan Mihrab, terdapat saumaah: tempat i’tikaf dan zikir, yang di antaranya terdapat ruangan dengan empat buah pintu sebagai tempat muazin (yang sempat berjumlah 16 orang). Ruangan yang berada di arah kiblat ini memiliki lebar 7 meter dan tinggi 16 meter dengan mihrab di tengah-tengahnya.

Masjid Cordoba memiliki 20 buah gapura berlapis tembaga yang berukiran hiasan tulisan Arab. Salah satu gapura dinamai Bab al-Manarah. Gapura yang memiliki tinggi 10 meter dan lebar 8 meter ini merupakan salah satu gapura masjid terindah di dunia.

Elemen Masjid Gaya Spanyol

Kini, kita kembali kepada elemen-elemen khas bergaya Umayyah di Spanyol. Namun, pertama kali kita harus memahami perluasan terakhir yang sangat ekstensif terhadap ruang shalat utama yang dilakukan pada tahun 987 pada masa pemerintahan al-Mansur, seorang qadi utama (master istana) pada masa Khalifah al-Hakam II, yang kemudian menjadi Perdana Menteri yang amat berkuasa pada masa Hisyam II.

Pada tahun 987, bangunan telah mengalami pembangunan dengan melanjutkan pemindahan kiblat kembali ke bagian tenggara bangunan dengan tujuan untuk tetap menjaga bentuk simetris bangunan. Pada saat itu, bagaimanapun juga, delapan ruangan besar telah ditambah memanjang ke arah ruang shalat di sisi sebelah kiri (arah barat laut), sehingga memerlukan 244 tiang kolom tambahan.

Sejak itu, Masjid Cordoba memiliki 544 tiang kolom dan 44 pilar interior. Masjid juga ditunjang oleh 606 tiang-tiang pilar penunjang. Ruang bagian dalam ini, setelah perluasan menjadi berukuran 130 kali 115 meter firkan, kemudian tampak seperti ruang besar seperti gaya tradisi bangun ruang Islam lainnya.

Ruangan interior yang besar, dengan bentuk seperti di Masjidil Haram, memerlukan bobot yang seimbang. Ternyata kolom-kolom Visighot dan peninggalan kuno lainnya yang dikumpulkan oleh para arsitek muslim dari seantero Spanyol tidak setinggi kolom-kolom yang digunakan pada Masjid Agung Damaskus.

Maka untuk mengatasi kekurangan ini para arsitek tersebut mencoba untuk kembali kepada formula awal: bahwa inovasi terbesar dari masjid ini adalah bentuk hypostyle-nya yang menggunakan sistem dua arcade yang ditata membentuk lorong-lorong. Kemudian, ditunjang dengan atap datar yang strukturnya berseri secara longitudinal.

Siapa pun yang memasuki ’hutan tiang kolom’ pada lorong-lorong itu akan terpesona dengan berlimpahnya kolom-kolom dan lengkungan-lengkungan: yang

pada setiap arah tampak seperti pemandangan barisan pepohonan, yang semakin ke belakang semakin tak terlihat dengan intensitas cahaya yang semakin berkurang.

Barisan tiang-tiang kolom itu sepertinya membentuk dan mengendalikan atmosfer suasana yang tak pernah habis. Kolom-kolom itu seakan-akan bergetar jika terkena sorotan cahaya. Karakter ini sebagian besar masih bertahan hingga saat ini.

Sebelum itu, belum pernah ada pemikiran untuk membuat gaya dan karakter hypostyle seperti di Masjid Cordoba yang begitu transparan, walaupun penuh dengan tiang-tiang kolom. Biasanya, bangunan-bangunan besar kebanyakan menggunakan metode yang sangat simpel (sederhana) dalam membuat dimensi penyusunan arcade (lori-lori beratap). Tidak saja dalam bangunan-bangunan Islam tetapi juga bangunan-bangunan hypostyle pada kuil-kuil Mesir di Karnak, Luksor, Edfu dan tidak juga basilika-basilika Romawi (seperti basilika Ulpia), juga tidak di Gereja Konstantinopel yang sebetulnya bisa dijadikan sebagai pembanding terdekat.

Bentuk hypostyle ini akhirnya diterapkan selama beberapa waktu di Maghribi, yang berada di bawah kekuasaan Islam di Spanyol. Namun, keberadaan Masjid Cordoba memang sangat dipengaruhi oleh kulminasi sistem bangunan masjid yang telah diilustrasikan sebelumnya pada Masjid Amr di Fustat (sekarang Kairo) atau Masjid Agung Aghlabids di Qairawan yang di tengah-tengah masjidnya berdiri tiang utama yang mendukung 1.000 lentera. Ya, Masjid Cordoba juga mempunyai 1.000 lampu (pada tiang utama) yang tergantung pada 113 buah kandil besar.

Hiasan Dekoratif Masjid

Dekorasi Masjid Cordoba dikerjakan selama masa pemerintahan Khalifah al-Hakam II, terutama di lokasi sekitar mihrab dan maqsurah: pintu-pintu (seluruhnya ada sembilan pintu) yang terbuat dari tembaga kuning, kecuali sebuah yang terbuat dari emas murni.

Maqsurah di Cordoba, secara arsitektur tergolong sangat bagus. Bentuk ini, sebenarnya bertolak belakang dengan ideologi egaliter asli seni muslim, dan sepertinya berhubungan dengan aspek arsitektur terpenting pada model arsitektur kontemporer yang terdapat pada Gereja Mozarabic di Spanyol bagian utara, di mana ruangan yang dianggap paling suci ditempatkan tersembunyi.

Di Cordoba, maqsurah ini menjadi batas paling luar dari area-area yang sama bentuk dari tiga naves yang letaknya bersinggungan dengan lengkungan multifoil, yang mempunyai banyak keistimewaan. Permainan bentuk dari arcade ini, yang bersilangan satu sama lain membentuk kesan claustrum, atau tirai tembus pandang yang menambah kesakralan masjid.

Kemegahan dekorasi pada ruang shalat, sangat menonjolkan ruang mihrab. Lubang-lubang hiasan diletakkan pada ruangan kecil berbentuk segi delapan. Konfigurasi yang menakjubkan pada mihrab tersebut menjadi pusat perhatian.

Dalam konteks ini, mihrab bukan semata sebagai merupakan simbol ritualitas semata: namun lebih sebagai akses menuju ruang sebelahnya. Namun demikian, mihrab Masjid Cordoba ‘menancap’ pada kegelapan dan terkubur bagai misteri yang susah dipahami sebagai simbol keabadian Allah.

Pola tersebut kemudian, sering digunakan kembali pada bangunan-bangunan masjid di Andalusia dan Maghribi yang digunakan untuk melakukan oratori (pidato), seperti di Istana al-Ja’far di Saragosa, Masjid Agung di Tlemcen, Masjid Qarawiyn di Fez, Masjid Jami’ di Tinmal, Masjid Agung di Seville, dll.

Ruangan itu tampak lebih redup dan sahdu karena ditempatkan di belakang lengkungan tapal kuda yang mewah, yang dilapisi dengan mosaik berwarna polichrome dan warna dasar emas. Motif dekorasi pada lengkungan-lengkungan batu besar di sekitar mihrab tampaknya sangat konsisten menampilkan bentuk-bentuk abstrak dari tanaman dan buah-buahan dalam berbagai kombinasi warna yang berbeda-beda: emas, biru, dengan warna dasar merah.

Di sekitarnya, terdapat architrave segi empat berbentuk relief yang disebut alfiz, dengan karakteristik khas bahasa arsitektur Islam. Kerangka ini terkadang dihiasi dengan mosaik bermotifkan tulisan dan pahatan ayat al-Qur’an. Tulisan dua baris tersebut ditulis dalam skrip Kufic berwarna emas di atas dasar berwarna biru. Tulisan Arab yang dinamakan Kufic, berasal dari tradisi orang Kuffah: biasanya digunakan untuk menyalin ayat-ayat suci. Gaya tulisannya mudah dikenali dengan gaya tulisan melingkar atau kadangkala persegi empat, dan kadangkala menjulang ke atas memberikan kesan yang khidmat dan monumental.

Begitu juga, di sekitar mihrab dan di atas alfiz terdapat tujuh panel ornamental kecil berbentuk lengkungan berhiaskan dekorasi berbentuk daun tiga serangkai (arches) yang ditopang oleh kolom-kolom kecil. Kerangka lengkungan yang indah bermotifkan bunga dan berlatar belakang warna emas ini menggambarkan pohon anggur dan daun-daun yang sedang mekar.

 

Cupola

masjid-cordoba5.jpg

Atap masjid yang berada di atas maqsurah tak dapat diragukan lagi merupakan elemen dekoratif dan arsitektur yang paling menarik dari masjid ini. Delapan arch langsing, yang menonjol dan berkaitan dengan rangka-rangka lain yang tengahnya membentuk pola segi delapan berdiameter 6 meter ini menunjang rangka cupola.

Bentuk dan pola lengkungan-lengkungan itu mengikuti prinsip dua bujur sangkar yang melintang satu sama lainnya, sejauh 45 derajat (pola yang sama terdapat pada Kubah al-Sakhra) di Yerussalem.

Sistem seperti ini merupakan pelopor dari rangka lengkungan pada revolusi besar-besaran pola arsitektur Eropa pada periode Gothic. Kompleksitas langit-langit seperti ini seluruhnya dihiasi dengan motif-motif mosaik yang sangat indah dengan latar belakang warna emas, yang merupakan hasil karya para seniman Byzantium, seperti dekorasi yang berada di sekeliling mihrab.

Seperti pada Kubah al-Sakhra dan Masjid Agung Damaskus, para seniman mosaik juga didatangkan dari Istambul (dulu Konstantinopel): untuk juga membuat hiasan dekoratif di Cordoba. Khalifah Al-Hakim II, menerimanya dari Kaisar Byzantium, Nicephorus II Phocas (963-969). Maka, sejumlah kru ahli mosaik pun berdatangan untuk membuat dekorasi-dekorasi berwarna emas di seluruh kompleks masjid ini.

Para seniman Kristen pun ikut dipekerjakan. Mereka membuat rancangan lansekap seperti yang telah membuat indah pelataran Masjid Damaskus. Adanya kerjasama kebudayaan itu mungkin karena Cordoba tidak seperti penguasa Islam di Timur Dekat: bahwa situasi politik dan kegiatan-kegiatan militer tidak merusak kerja sama dan produktivitas kebudayaan (artistik) antara kekhilafahan Umayyah dan kekaisaran Byzantium.

Masjid yang terus disempurnakan hampir selama dua abad ini masih dianggap sebagai salah satu masjid yang terumit dan terindah di dunia. Masjid Cordoba adalah sebuah karya besar. Sampai sekarang pun masih berdiri kokoh. Namun, pada saat Cordoba jatuh ke tangan penguasa Spanyol Nasrani, masjid ini pada tahun 1236 sempat diubahfungsikan menjadi sebuah gereja dengan nama La Mazquita.

by: sofwan{kalipaksi}

Namun, sekali Masjid Cordoba sampai kapan pun tetaplah Masjid Cordoba. Oleh karena itu, bentuk-bentuk lengkungan dan hiasan dekoratif Masjid Cordoba menjadi salah satu bahan informasi untuk dirangkum bersama masjid-masjid agung lainnya di seluruh dunia.