jump to navigation

Berdoalah untuk Para Kurcaci March 26, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in humanisme, motivasi.
add a comment

Jika pada jurnal sebelumnya saya bicara tentang “orang kalah” dalam terminologi kompetisi dan perburuan proyek, hari ini saya ingin bicara tentang “orang kalah” dalam konteks kasta sosial–atau saya sering menggelari mereka dengan istilah “kurcaci”.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi kesempatan begitu luas untuk melakukan perjalanan lintas kasta sosial, mulai dari tidur sekamar dengan para kurcaci di permukiman kumuh di atas kali Jelambar sampai diinapkan JK di Hilton; mulai dari makan nasi uduk bersama sebuah keluarga pemulung di Ciledug, hingga makan siang dengan Probosutedjo di executive lounge Le Meridien lantai 19.

Namun, anehnya, saya kok lebih memiliki kesan ketika tak terlupakan ketika berada bersama para kurcaci itu ketimbang ketika bersama para kurcaca (meminjam istilah Bang Iwan Fals). Mungkin, karena ketulusan para kurcaci, yang terpancar dari mata dan air muka mereka.

Entah, mengapa saya selalu tertarik untuk menatap mata mereka, meski itu terkadang dilakukan secara diam-diam. Mata yang menyembulkan pergulatan hidup yang ekstra-keras. Memang, terkadang ada juga saya dapati mata dan air muka kurcaci yang mencerminkan keculasan dan kemalasan.

Sebagai bukan orang kaya, saya terkadang hanya bisa berdoa ketika melihat bapak penjual gorengan dengan tubuh rentanya memanggul barang dagangannya. Atau, ketika melihat pemulung yang sedang bekerja keras mengumpulkan limbah gelas plastik aqua. Atau, penjaja mainan anak-anak yang untung berdagang dalam sehari paling hanya 10 ribu atau 15 ribu rupiah.

Ya, setidaknya dengan doa itu saya merasa ada sesuatu yang bisa berikan, meski hanya doa. Doa yang cukup sederhana: “Ya Tuhan, limpahkanlah rizki yang cukup baginya hari ini. Berikan mereka senyum yang berlimpah hari ini.

Melalui jurnal ini, saya hanya mengajak: Jika ada rizki lebih mari kita santuni para kurcaci itu. Atau, setidaknya, marilah kita berdoa untuk mereka. Setidaknya, doa agar mereka selalu bisa tersenyum. Bagi orang kalah, bisa tersenyum adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

Pesan Moral dari Hidup Seorang Gito Rollies February 29, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in humanisme.
2 comments

gitorolies-kembalipadanya.jpg

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Gito Rollies wafat. Mata batin saya langsung meneroka, “Ah….engkau memang orang yang beruntung Mas Gito. Kau akhiri hidupmu dalam gelimang iman dan keyakinan. Setidaknya, itu yang saya tahu.” Saya pun kemudian mencoba mawas diri. Akankah hidup saya kelak bisa berakhir dalam keadaan husnu al-khatimah. Juga, hidup anda teman-temanku.

Siapa yang tidak kenal mendiang Gito. Ia dulu penyanyi rock yang sempat menjadi ikon kebengalan anak muda. “Mick Jagger itu dulu sunnah saya. Mabok, main cewek, dan dunia kelam itulah saya,” kata Gito suatu ketika dalam sebuah ceramah. “Tapi, kini sunnah saya Rasulullah,” lanjutnya.

Sungguh, saya selalu berjuang untuk menahan untuk tidak meneteskan air mata ketika mendengar lagu religi yang dinyanyikan Mas Gito. Judulnya, “Hanya Pada-Mu Aku Bergantung“. Bait-bait dari lirik lagu itu, yang masih saya ingat di antaranya:

“Ku mohon ampunan-Mu.”
“Ya…Allah ya Tuhanku”

“Aku insan biasa”
“Yang, tak luput dari dosa-dosa”



Padahal, saya termasuk tipe manusia yang sulit menangis. Lagu ini pernah menjadi soundtrack sinetron religi (jika tidak salah di RCTI). Setiap mendengar lagu itu (yang dinyanyikan oleh Mas Gito), saya selalu merinding. Entah, mungkin itu karena aura suara Mas Gito yang dipenuhi aura taubat (setidaknya ketika melantunkan lagu tersebut). Apalagi, dalam proses rekaman, lagu itu direkam ketika ia sedang sakit; dari atas tempat tidurnya sekitar dua tahun silam.

Saya lalu teringat pesan seorang sahabat spiritual. Ia bilang, hati manusia itu seperti cermin. Hanya cermin yang bersih sajalah yang bisa memantulkan sinar dengan sempurna. Cermin yang kusam, dipenuhi debu, tentu saja tidak. Begitu pula hati.”

Dari satu sisi itu saja, saya yakin bahwa Mas Gito seorang dengan hati bersih. Buktinya, ia bisa memantulkan aura taubatnya kepada orang lain. Setidaknya kepada saya.

Mas Gito, sungguh saya iri padamu. Engkau kembali kepada-Nya dalam ketenangan hati dan batin. Semoga, perjalanan hidupmu bisa menjadi pesan moral bagi kami yang masih hidup.

Selamat jalan, Mas Gito. Terima kasih untuk pesan yang tak ternilai harganya.