jump to navigation

ANEKA KESALAHAN FOTOGRAFER PEMULA versi ARBAIN RAMBEY April 9, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in fotografi.
2 comments

Pada zaman kamera masih memakai film dan belum menggunakan rangkaian pembantu elektronik, untuk bisa memotret dengan baik, diperlukan pemahaman teori fotografi yang matang. Secara umum, teori fotografi ini melingkupi cara kerja rana dan diafragma pada kamera, pemahaman akan panjang fokal lensa, pemahaman akan kepekaan rekam film serta pemahaman akan komposisi.

Pada era digital, sebagian besar teori fotografi sudah diambil alih “komputer” pada kamera. Namun, pada era digital pula makin banyak kesalahan baru yang timbul. Kesalahan-kesalahan baru ini timbul karena realitas elektronik dan digital yang juga barang baru di muka bumi ini.

Perusahaan Panasonic telah melakukan survei atas kesalahan-kesalahan pemula yang hasilnya sebagai berikut:

Kesalahan tertinggi pada pemakai kamera digital, yaitu sampai 35,2 persen, adalah baterai habis. Kamera digital memang hanya bekerja kalau ada baterai di dalamnya. Maka, kamera digital yang laris umumnya punya baterai yang awet, minimal bisa untuk 500 kali pemotretan.

Kesalahan pemula yang menduduki peringkat kedua adalah gambar kabur akibat kamera bergoyang saat digunakan, yaitu mencapai 29,3 persen. Goncangan kamera alias camera shake memang kesalahan pemakai. Namun, kamera yang baik akan meminimalkan hal ini dengan bentuknya yang ergonomis dan kecepatan rana yang lebih tinggi.

Gambar kabur akibat goyangan subyek yang difoto juga mendominasi hasil survei, yaitu dengan 22,7 persen. Kesalahan ini adalah akibat pemakai salah memperkirakan kecepatan rananya.

Untuk dua kesalahan tersebut, perusahaan Panasonic telah mengatasinya dengan fasilitas ISO otomatis dalam kamera-kamera terbaru mereka. Dengan fasilitas ini, sebuah kamera akan menaikkan setelan ISO kalau mendeteksi kemungkinan adanya goyangan. Dengan naiknya ISO, otomatis kecepatan rana ikut naik.

“Time lag”
Kesalahan pemula yang persentasenya menduduki nomor tiga adalah terlambatnya memotret adegan akibat kelambatan sang kamera bereaksi. Hal ini lazim disebut time lag, yaitu jeda antara saat rana ditekan dan saat kamera bereaksi. Mungkin time lag adalah masa lalu karena saat ini kamera yang beredar umumnya sudah punya reaksi cepat.

Kesalahan yang juga cukup tinggi terjadinya, dengan persentase 16,8 persen, adalah salah fokus. Kesalahan ini umumnya menyangkut focusing pit alias fokus lari ke bidang nun jauh di sana. Oleh Panasonic, kesalahan ini dieliminasi lewat kemampuan kamera mencari fokus ke wajah manusia terdekat alias fasilitas face detection.

Kesalahan-kesalahan lain hasil survei adalah foto terlalu gelap (19,3 persen), memori penuh (16,5 persen), foto terlalu terang (12,2 persen), salah white balance (6,8 persen), salah penyetelan piksel (10 persen), salah kecepatan rana (5,4 persen), dan salah ISO (3,7 persen).

Di masa mendatang, kalau semua kesalahan sudah bisa diatasi, mungkin siapa pun bisa menghasilkan foto yang bagus secara teknik.

Namun, kembali ke realita bahwa foto bukanlah matematika, foto bagus atau foto buruk secara isi akan terjadi karena faktor ini tidak bisa digantikan komputer seperti apa pun.

Fotografi memang sudah menjadi realita kehidupan modern, bukan lagi hobi atau profesi semata.

Oleh Arbain Rambey
Sumber: Mbah KOMPAS

Tidak Memotret dan Kerugiannya March 10, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in fotografi.
add a comment

09motret.gif

Bila dalam waktu cukup lama tidak memegang kamera dan melakukan pemotretan, otomatis kemampuan memotret pun akan semakin berkurang dan tidak selincah sebelumnya.

Seorang penggemar foto komplain, kenapa ya, hasil pemotretan dengan kamera ini hasil gambarnya selalu ada bercak putih. Padahal kameranya masih baru dan disimpan dengan baik. Setelah dicek ke tukang servis kamera di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, dan beberapa bagian kamera dibuka dan diperiksa secara cermat lalu diamati menggunakan kaca pembesar oleh si tukang servis, ternyata kamera itu bermasalah. “Lensa kamera sudah mulai berjamur, dan bagian tempat penyimpanan baterai terlihat berkarat, karena saat kamera disimpan, baterai tetap ada di dalam kamera, sehingga ada bagian yang bocor,” jelas si tukang service.

Kerusakan kamera akibat lama tidak dipakai dan tidak dikontrol penyimpanan dan perawatannya, memang sering terjadi. Menurut beberapa tukang servis kamera di Pasar Baru, salah satu penyebab kerusakan kamera adalah cara penyimpanan yang salah dan tidak diperiksanya kamera secara teratur.

“Walaupun kamera jarang dipakai, tetapi kalau setiap 1-2 minggu sekali dilihat dan diperiksa sambil dicoba-coba untuk memotret, pasti kamera akan selalu dalam kondisi baik. Masalahnya, sudah penyimpanannya salah, kondisi kamera tidak pernah dikontrol,” kata seorang tukang servis yang sudah puluhan tahun menjadi tukang servis kamera.

Ketika baru pertama kali membeli dan memiliki kamera, biasanya pemotret sangat senang dan bersemangat melakukan berbagai pemotretan, seakan-akan sampai kehabisan subjek pemotretan. Namun, setelah beberapa kali pemotretan dilakukan dan hasil pemotretannya cukup banyak, rasa jenuh dan bosan mulai menghinggapi diri pemotret.

Kondisi ini membuat pemotret kehilangan gairah atau mood untuk melakukan pemotretan, seakan-akan sudah tidak ada lagi subjek pemotretan yang menarik dan perlu didokumentasikan.

Kondisi ini banyak dialami pemotret dadakan yaitu pemotretan yang dilakukan karena ada acara-acara khusus seperti untuk menyambut Hari Raya, pesta perkawinan dan sebagainya.

Setelah selesai, kamera disimpan dalam waktu lama, bahkan ada yang sampai menjelang hari-hari besar keagamaan tahun berikutnya, baru kamera dicari dan diperlukan.

Kalau perasaan jenuh, bosan dan kehilangan mood mulai menghinggapi pemotret, kondisi ini harus diwaspadai dan harus bisa diatasi. Kalau kondisi ini dibiarkan terus-menerus, dikhawatirkan akan berdampak kurang baik terhadap pertama, kamera. Dengan tidak melakukan pemotretan, otomatis kamera hanya tergeletak ditempat penyimpanannya.

Kalau penyimpanan kamera dilakukan dalam waktu lama dan tidak benar, kamera bisa mengalami kerusakan, terutama pada bagian lensa. Biasanya lensa akan cepat terserang jamur yang menempel, tombol pelepas rana bisa ngadat tidak bisa dikokang atau ditekan untuk pemotretan, bodi kamera mulai berkarat dan jika tidak segera dibersihkan bisa menjalar kemana-mana.

Kedua, dengan waktu cukup lama tidak memegang kamera dan melakukan pemotretan, otomatis kemampuan memotret pun akan semakin berkurang dan tidak selincah sebelumnya. Hal ini sangat dirasakan, terutama pada gerakan-gerakan jari tangan ketika mengatur berbagai fitur kamera dan mensinkronkan cara kerja kamera saat memotret.

Kemampuan yang juga terasa berkurang antara lain adalah saat melihat, menentukan dan memilih sudut pemotretan (angle) yang menarik, serta dalam pengaturan komposisi gambar. Jadi? Jangan sampai berhenti memotret.

(diolah dari tulisan Eddy Suntoro/Suara Pembaruan)