Action Learning: Sebuah Antisipasi Songsong Masa Depan August 20, 2007
Posted by sofwan {kalipaksi} in edukasi.add a comment
Evolusi intelektual manusia telah menghasilkan ribuan metode ilmiah agar kehidupannya tetap berada dalam level yang bermutu. Berbagai definisi tentang segala macam prinsip-prinsip ilmiah pun dirilis mulai dari yang menggunakan bahasa canggih yang hanya bisa dimengerti oleh sebagian kecil manusia intelektual hingga yang menggunakan bahasa yang bisa dimengerti banyak orang awam. Termasuk di dalamnya definisi dan metode tentang belajar, mengajar, atau mendidik hingga definisi dan metode tentang mengatur atau memanaje sekumpulan manusia.
Salah satunya metode dan asas “Action Learning” (selanjutnya kita singkat saja dengan “AL” agar hemat ruang). Dalam perbincangan saya dengan Dr. Antony Hii, salah seorang penggiat AL dari Serawak bisa disimpulkan bahwa AL merupakan sebuah metode alternatif untuk melengkapi metode-metode peningkatan sumber daya manusia yang selama ini dijadikan konsep baku di seluruh dunia melalui sistem kurikulum klasikal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.
Metode AL memiliki formula L = P + Q. Rinciannya: L untuk learning, P untuk “program knowledge” yang diperoleh dari buku, majalah, internet atau televisi yang telah didisain untuk keperluan siswa atau mahasiswa, sedangkan Q adalah “the questioning process”yaitu proses bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi. Menurut Dr. Antony Hii, perguruan tinggi dunia sekelas Harvard dan Massachussets Institute of Technology (MIT) kini telah menerapkan sistem yang serupa dengan AL, hanya saja di Harvard asas itu disebut dengan asas “what if”: belajar mengantisipasi “bagaimana jika sesuatu hal terjadi dan apa yang mungkin terjadi di masa depan.”
Tadinya, tambah Dr. Antony, Harvard terlalu mengedepankan unsur “P” melalui instruksi-instruksi yang datang dari buku teks semata. Padahal dunia terus berubah dan berkembang. Sadar akan kelemahan metodologi itu, mereka beralih pada disain khusus dengan memperbanyak pembahasan kasus-kasus di berbagai lapangan ekonomi mikro (kasus-kasus di berbagai perusahaan besar, red) dan makro (di berbagai negara, red) serta mulai menggalakkan asas “what if”.
What if dan action learning adalah sama. Namun setiap kali metode baru diperkenalkan, ada saja kontroversi tentangnya. Menurut Dr. Richard Teare, juga seorang penggiat AL dari Revans University, awalnya terjadi tarik menarik antara penggiat AL dan asosiasi para manajer yang bergerak di bidang akademis. Kata seorang akademisi senior yang tak setuju metode itu diterapkan di dalam kelas-kelas di universitas, jika seseorang ingin menggapai derajat MBA, maka seseorang itu mesti menerima dan menguasai teori yang dulu diajarkan diterima dan diajarkan kepada para MBA pendahulunya. Atau, penentangan para akademisi yang berpendapat bahwa metode AL hanya pas diterapkan di luar kampus, semisal di perusahaan-perusahaan. Toh, akhirnya metode ini diakui oleh berbagai universitas di berbagai negara.
Action Learning: Tanya, Bertanya….Analisa August 20, 2007
Posted by sofwan {kalipaksi} in edukasi.add a comment
Dalam sebuah konferensi di kota Miri, Malaysia Timur sebuah tema tentang metode pendidikan bernama action learning menjadi tema utama bahasannya. Salah satu pembicara dalam konferensi itu bernama Antoni Hii. Doktor alumnus George Washington ini ternyata seorang aktivis pendidikan yang getol menyuarakan konsep action learning. Bahkan, ia menjadi Regional Director IMCA, sebuah lembaga yang mempelopori action learning, wilayah Asia.
Jika tidak salah, dua tahun lalu, saya sempat berbincang panjang lebar dengan doktor yang juga pemegang sabuk hitam Taekwondo ini. Waktu itu, Antoni sedang berkunjung ke Indonesia untuk sebuah misi sosialisasi action learning. Perbincangan kami, yang berlangsung dalam bahasa Inggris itu cukup panjang. Namun, saya coba sunting untuk kemudian menjadi hanya bagian yang terpenting tentang action learning.
Menurutnya, action learning berbicara tentang sebuah proses pemecahan masalah tanpa melakukan judgment, tapi dengan sebanyak mungkin memunculkan pertanyaan atas masalah itu. Dalam konsep action learning, cara terbaik bagi kita untuk memecahkan suatu masalah adalah dengan menganalisanya. Sedangkan analisa terbaik adalah dengan sebanyak mungkin memunculkan pertanyaan. Tidak hanya sekadar memecahkan masalah, action learning juga membantu seseorang untuk belajar. Oleh karena itu unsur belajar menjadi sesuatu yang amat penting dalam action learning.
Action learning merupakan sebuah konsep yang relatif baru, bukan dikembangkan dari konsep-konsep lain. Konsep ini mulai dikembangkan 40 tahun lalu di Inggris dan sekarang sudah dipelajari, digunakan dan diterapkan di berbagai organisasi yang berbeda. Setelah berhasil dikembangkan, lantas banyak perusahaan yang mulai membicarakannya. Ada banyak permasalahan dalam organisasi yang tak bisa hanya mengandalkan si bos untuk memecahkannya. Bos harus melibatkan para pegawainya untuk belajar bagaimana menyelesaikan dan menimalisasi masalah.
Dalam konsep ini, terdapat mentor yang bertugas mengembangkan pola berpikir action learning dalam berbagai kegiatan tutorial yang dikemas dalam bentuk dialog. Nah, agar diskusi atau dialog tidak berkembang menjadi debat kusir, sebuah grup action learning idealnya hanya diikuti maksimal 20 orang dengan setiap peserta harus dalam keadaan sederajat. Tak seorang pun dilazimkan terlalu mendominasi pembicaraan. Dan sebaliknya, tak seorang pun sama sekali tak berbicara.
Agar tak menjadi debat kusir, seorang mentor tak boleh memutuskan satu pendapat sebagai yang terbenar. Fungsi utama mentor yakni menuntun peserta kepada analisa-analisa yang mendalam.
Dalam sebuah dialog manajerial, mentor tidak memberikan rekomendasi atau jalan kepada murid atau peserta untuk menggunakan cara A atau B, sebagai solusi dari sebuah masalah yang sedang dibahas. Justru, setiap orang bisa bertanya mengapa dia harus memilih suatu metode dan orang lain harus bisa menerima alasannya. Jika seseorang tidak setuju, masalahnya bukan tentang metode yang dipilih, melainkan tentang “anda yang tidak setuju”. Perbedaan semacam itu harus diklarifikasi sebelum masuk pada tahapan analisa. Jangan sekali-kali membuat kesimpulan dini atas klarifikasi itu sehingga orang tidak merasa bahwa anda adalah seorang yang arogan atau anda seorang yang sangat berkuasa.
Action learning banyak digunakan untuk menyelesaikan persoalan organisasional. Namun sekarang banyak orang bertanya apakah action learning digunakan untuk memecahkan persoalan sosial remaja. Jawabannya “ya”, tetapi belum bisa dibuktikan.
Action Learning di Sekolah
Dalam action learning, otomatis diperlukan lebih banyak dialog. Monolog tak lagi diperlukan. Lalu, bagaimana jika action learning diaplikasikan dalam proses belajar mengajar di kelas, misalnya?
Menyikapi pertanyaan itu, dalam konteks itu, monolog di depan kelas tetap diperlukan. Namun, ketika seorang guru akan mengajak para siswa untuk menarik suatu kesimpulan dari sebuah masalah, harus ada proses dialog. Ada beberapa alternatif yang dikemukakan.
Hari ini, kebanyakan guru di seluruh dunia belum menjadi “good self-director learner” (pengarah ajar yang baik untuk diri sendiri) yang baik sehingga tidak mampu menjawab pertanyaan murid secara meyakinkan. Sudah seharusnya jika sekolah-sekolah di seluruh dunia menjadikan murid-muridnya piawai dan berani bertanya.
Masyarakat Asia selalu mendengar propaganda bahwa sistem pendidikan di banyak negara di Eropa dan Amerika amat merangsang partisipasi siswa untuk berdialog. Amerika, Inggris and negara-negara Eropa memang merangsang anak-anak untuk berpartisipasi dan untuk berbicara. Anda tahu mengapa? Sebab itulah budaya mereka. Namun sistem pendidikan tidak sama dengan budaya. Hanya 10 persen guru yang aktif berdialog dengan murid. Mengapa? Karena mereka tidak siap mengajar dengan cara itu.






