jump to navigation

Ini Penjelasan: Mengapa Bandung Sangat Kreatif? August 12, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in city, pluralisme.
Tags:
add a comment

Sebagai orang dengan setengah darah Jogja, saya sempat bertanya kepada diri sendiri: mengapa pola berkesenian anak-anak Jogja—juga evolusi kreatifnya—tidak bisa sebebas anak-anak Bandung? Betul, bahwa masing-masing dari komunitas seni di dua kota ini punya ciri khasnya masing-masing. Ambil sebuah contoh tentang desain kaos oblong (T-shirt), misalnya. Jogja melaju dengan Dagadu-nya, sementara Bandung ngacir dengan gaya C-59-nya. Dari sisi musik, Jogja punya Sheila on 7 dan Jikustik, sementara Bandung punya Peter Pan dsb (dengan jumlah yang lebih banyak).

Tapi, dalam proses eksplorasinya, di luar nama-nama ikon seni kreativ yang tadi saya sebut, kok saya tetap merasa Bandung punya energi yang lebih lepas, ketimbang Jogja. Nah, rupanya, pertanyaan saya itu terjawab ketika KOMPAS MINGGU menulis tentang ruh kreativitas anak-anak Bandung dalam sebuah artikel berjudul: Plural dan Toleran (silahkan baca sendiri link-nya atau artikel copas-nya di bagian bawah.
Yang jelas, sewaktu pekan lalu kembali menginjakkan kaki di Bandung, saya begitu surprise dengan pentas busana dari bahan-bahan bekas yang digelar anak-anak Bandung, Sabtu 9/8/2008 lalu, yang sepertinya semacam sekuel dari catwalk jalanan yang juga pernah digelar anak-anak Bandung di trotoar dan pembatas jalan satu bulan lalu.

Kesan lain, kreasi anak-anak Bandung tidak nyunda banget meski Bandung bersetting sunda.
Terlepas dari setuju atau tidak, yang jelas penjelasan yang disajikan oleh KOMPAS sangat masuk akal. Ini copas artikel di KOMPAS Minggu itu:

Plural dan Toleran

Sejak lama orang dapat merasakan energi bidang kreatif yang membuat Bandung berbeda dari banyak kota lain di Indonesia, bahkan Jakarta.
Musik indi, gaya berpakaian yang dimunculkan distro alias distribution outlet, atau makanan hanyalah beberapa contoh produk Bandung yang membuat kota itu unik.

Sosiolog dari Universitas Padjadjaran Bandung, Budi Rajab, mengamati, kreativitas anak muda Bandung sudah muncul sejak tahun 1970-an dalam bentuk kelompok musik atau mode busana sendiri. Tetapi, kreativitas itu masih sebatas aktualisasi diri, belum menjadi sebuah bisnis.

Munculnya kreativitas itu, menurut Budi, antara lain karena Bandung tidak memiliki akar budaya tradisional sekuat kota-kota lain. Dengan demikian, orang Bandung lebih terbuka dalam menerima ide-ide dari luar dan lebih egaliter. Ini berbeda dari Solo atau Yogyakarta yang akar budaya Jawanya sangat kuat. ”Kalaupun ada kultur yang dominan, yaitu Sunda, itu hanya terbatas pada bahasa,” papar Budi.

Penasihat Bandung Creative City Forum, Wawan Juanda, menarik sejarah Bandung hingga ke masa abad ke-13. Setelah Kerajaan Padjadjaran tidak ada lagi kerajaan di Jawa Barat dan tidak ada peninggalan sejarah, itu menjadikan Bandung kota yang tidak mempunyai akar budaya terlalu kuat.

Selain itu, menurut Budi, Bandung adalah kota yang dibangun Belanda sebagai kota pendidikan sehingga mengundang pelajar dari berbagai daerah ke kota itu. Selain menjadikan Bandung kota plural, kedatangan pelajar itu membuat warga yang berada pada usia produktif pun tinggi jumlahnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Bandung Creative City Forum Ridwan Kamil. Belanda sengaja menjadikan Bandung sebagai kota waktu luang dan gaya hidup yang terkenal dengan Jalan Braga dan sebutan Parisj van Java. Hal ini membuat sejak tahun 1920-an sudah terjadi pertukaran ide dan nilai-nilai budaya dengan pihak luar. ”Bandung sejak dulu sudah kosmopolitan,” papar Ridwan.
Keterbukaan dan pluralisme itu, menurut Ridwan, merupakan salah satu syarat tumbuhnya ekonomi kreatif.

Kota menengah

Faktor lain yang menjadikan ekonomi kreatif tumbuh subur di Bandung adalah karena ukuran kotanya tergolong menengah. Dengan mengutip ahli kota kreatif asal Inggris, Charles Landry, Ridwan menyebut keuntungan sebagai kota menengah (secondary city).

Ukuran radius kota dan populasinya lebih mudah dikelola dan sebagai kota menengah lebih mudah menonjolkan keunggulan yang ada di kota. ”Ini berbeda dibandingkan dengan Jakarta yang ukurannya besar,” kata Ridwan.

Populasi orang usia muda di bawah 40 tahun di Bandung tinggi, sekitar 60 persen. Keadaan ini memungkinkan terjadinya diskusi dan pertukaran ide secara intensif dengan lokasi di kafe, warung, atau tempat nongkrong lain.

Faktor lain adalah banyaknya perguruan tinggi di kota itu sehingga melahirkan banyak anak muda terdidik. Syarat tumbuhnya industri atau ekonomi kreatif adalah talenta yang dimiliki warganya sehingga mereka dapat menangkap peluang serta mengakses dan memanfaatkan teknologi.

”Sistem sosial yang toleran terhadap ide dan nilai baru sangat penting untuk industri kreatif. Ini yang memungkinkan musik underground terus berkembang di Bandung,” tambah Ridwan.

Keberagaman itu pula yang menyebabkan industri dan ekonomi kreatif yang berkembang di Bandung berbeda dari Bali, Solo, dan Yogyakarta.

Ketika Sampah Tak Identik dengan Kekumuhan April 2, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in city, jombang, manajemen sampah.
4 comments

OLEH-OLEH DARI JOMBANG

(teks dan foto: sofwan.kalipaksi)

jombang-3.jpg

Sampah tidak harus identik dengan kekumuhan. Idiom ini tampaknya diresapi betul oleh Bupati Jombang, H.Suyanto. Hasilnya, jangan kaget jika kompleks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Banjardowo, yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLKH), justru lebih tampak seperti hutan wisata ketimbang sebuah area pembuangan akhir sampah. Ya, inilah fakta yang sangat langka untuk dijumpai di berbagai area TPA Sampah di negeri ini. Di banyak tempat, TPA identik dengan kekumuhan.

jombang-4.jpg

Memasuki kompleks TPA Jombang, kita akan disuguhi sebuah pemandangan hutan jati yang sangat rimbun. Bagi orang awam, pasti tidak akan menyangka jika beberapa tahun silam, tanah tempat jati-jati itu berdiri tegak tadinya adalah arena pembuangan sampah. Begitulah adanya. Dengan mekanisme sistem Control Land Fill, sampah yang menggunung hingga sekitar tiga meter kemudian diurug dan dipadatkan. Setelah mengalami beberapa proses, lahan bekas urugan itu pun kemudian ditanami bibit-bibit jati dan beberapa jenis pohon lainnya. Dengan luas area yang cukup luas, yakni sekitar 8,1 hektar, alhasil pengelola TPA Jombang punya cukup waktu untuk menunggu jati-jati itu tumbuh hingga besar, sebelum akhirnya dipindah ke tempat lain, karena lahan tempat mereka tumbuh akan digunakan kembali sebagai zona pembuangan sampah.

Tidak hanya itu, di kompleks ini juga terdapat lindi pengolahan air limbah. Setali tiga uang, lokasi di sekitar lindi tidak berbau seperti halnya lokasi pengolahan limbah kotoran lainnya. Apa resep Dinas LHK Jombang? “Tidak ada resep jitu, hanya menjalankan prosedur pengelolaan secara disiplin. Itu saja,” kata Machmud, Kepala DLHK Jombang.

Inovasi lain, seperti diceritakan Bupati Jombang kepada saya, pemulung diposisikan sebagai mitra, yang harus diperhatikan kesejahteraannya. “Bagaimanapun juga kita butuh pemulung. Ojo disiyo-siyo,” tegas Bupati Suyanto. Jangan disia-sia, begitu Bupati Suyanto memandang ‘korps pemulung’ di daerahnya itu. Karena itu, di kompleks TPA Banjardowo dibuatkan shelter khusus bagi para pemulung. Di sana, mereka diberi kesempatan untuk melakukan komposting. “Itu ditempuh untuk memberi kesempatan kepada mereka belajar mengolah sampah. Mulai dari produksi kompos sampai menjualnya ke tangan pembeli,” jelas Bupati Jombang.

kompos-jombang.jpg

Poin kemitraan dengan pemulung ini jelas tergolong inovatif mengingat selama selama ini di banyak daerah sering mengemuka kasus pengangkangan hak-hak pemulung yang beroperasi di kawasan TPA. Pemulung hampir selalu menjadi pihak yang tidak memiliki nilai tawar. “Tidak benar jika ada pengelola TPA dan oknum-oknum cenderung ‘menghisap’ pemulung,” tegas Bupati Jombang.

Belajar dari hal itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Jombang pun membentuk kelembagaan pemulung untuk mengantisipasi praktik hukum rimba dalam alur pengolahan sampah. Bahkan, di Jombang, pemulung bisa langsung menimbang sampah daur ulang untuk dijual ke penampungan yang juga disiapkan di TPA. “Mereka tidak perlu pergi ke lapak untuk menjual sampah daur ulang,” tegas Machmud, yang Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) itu.

***

Sebagai sebuah kabupaten, reputasi Jombang dalam mengelola urusan sampah memang cukup impresif. Bahkan, kabupaten ini terpilih sebagai satu dari tiga kota tiga provinsi di pulau Jawa sebagai daerah pemetaan 3R (reuse, reduce, recycle), sebuah proses manajemen persampahan yang melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Sistem pengomposan sampah di Jombang juga tergolong rapi dengan sistem meritokrasi pengomposan yang jelas. Bahkan, di beberapa kelurahan tertentu sudah dilengkapi dengan keranjang-keranjang kompos. Sistem pengomposan di Jombang bahkan bermuara pada pengepakan hasil kompos, yang kemudian dijual ke pasar sebagai pupuk.

Untuk mendukung mekanisme ini, para pegiat PKK pun dilatih cara mengolah sampah menjadi kompos. Organisasi ibu-ibu ini merupakan salah satu ujung tombak manajemen sampah tingkat lingkungan di Jombang. Cara ini sangat efektif karena sampah rumah tangga biasanya sangat berkaitan erat dengan ibu-ibu.

jombang-pkk-kompos.jpg

Saat ini peran serta warga perkotaan Jombang dalam ikut mengelola sampah sangat layak untuk mendapat acungan jempol, terutama dalam konteks pengomposan dan daur ulang Skala Rumah Tangga, yang di Jombang populer dengan sebutan Keranjang Takakura. Prinsip kerja keranjang, yang sudah dilengkapi dengan media starter, ini sebenarnya sangat sederhana. Timbunan sisa-sisa makanan yang berorganik pada keranjang ini dijaga suhunya agar tetap lembab. Hal ini dimaksudkan agar unsur mikrobiologi pada timbunan itu tetap hidup dan bekerja sebagai pengurai. Nah, ketika sudah terurai, barulah kompos itu dipanen.

***

Idiom “sampah tidak harus identik dengan kekumuhan” bisa diwujudkan. Masyarakat tidak akan sungkan untuk berjibaku dengan sampah, jika manajemen pengelolaannya tidak berdimensi kekumuhan. Nah, jika sudah begini, sepertinya sebuah solusi atas kerumitan problematika pengelolaan sampah di Indonesia satu per satu akan bisa diselesaikan.