jump to navigation

Apa Beda Rusunami dan Apartemen? February 6, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in architecture, city.
2 comments

 

rusunami.jpg

Beberapa tahun terakhir ini, istilah Rusunami dan Rusunawa mulai akrab di telinga kita, terutama yang bergelut atau mengikuti perkembangan seluk beluk dunia permukiman. Rusunami merupakan akronim dari Rumah Susun Sederhana Milik, sedangkan Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa). Rusunami (rumah susun sederhana milik) bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan maksimal Rp 4,5 juta. Dan Rusunawa (rumah susun sederhana sewa) untuk penghasilan maksimal Rp 1,7 juta per bulan. Oh, ya rusunawa yang memang disediakan untuk rakyat kecil itu biasanya dibangun di lahan bekas permukiman kumuh dan sekitar kawasan industri serta kampus. Yang jelas, kehadiran rusunami tidak terlepas dari Program 1000 Menara Rusun yang sedang digalakkan Kemenpera.

Apa beda antara keduanya? Rusunami biasanya dibangun oleh kelompok perusahaan pengembang (developer), sedangkan Rusunawa dibangun oleh pemerintah (biasanya oleh Pemda bekerja sama dengan Kementerian Perumahan Rakyat). Kemarin (4/3), sebuah Rusunami di Kelapa diresmikan.

Pertanyaannya kemudian, apa dong beda antara apartemen dan rusunami? Jika dilihat dari bentuk dan konsepnya, rusunami itu sebenarnya ya apartemen, bukan? Mungkin, karena secara fisik lebih sederhana (dengan bahan material bangunan yang lebih murah) serta keterbatasan fasilitasnya yang tidak se-”wah” apartemen. Bisa jadi, demikian.

Yang jelas, harga Rusunami jauh lebih murah. Misalnya, Rusunami Cawang, dengan lokasi di tengah kota per unit dijual Rp 144 juta untuk tipe 33. Bandingkan dengan apartemen, apalagi jika strata title. Konon, sebuah unit apartement penthouse di Kemang City bisa mencapai Rp 7 M.

Bagi saya, yang tergolong tidak punya banyak uang, kehadiran Rusunami jelas sangat bermanfaat. Bisa punya rumah di tengah kota tapi dengan harga yang relatif terjangkau. Hanya, sedihnya, banyak pialang rumah yang mencoba mengambil keuntungan. Mereka borong unit sebanyak-banyaknya, terus dijual lagi dengan harga lebih mahal.

catatan: foto diambil dari KOMPAS - sebuah contoh ruangan di Rusunami Kelapa Gading.

Istana Al-Hamra & Kisah “La Ghaliba Illallah” August 30, 2007

Posted by sofwan {kalipaksi} in Moslem Litherary, architecture.
4 comments

oleh: sofwan{kalipaksi} - dari berbagai sumber

alhamra6.jpg

Granada terletak di dataran tinggi yang merupakan tepi dari ujung pegunungan Siera Nevada. Daerah ini mendapatkan air dari pencairan salju abadi Siera Nevada. Maka tak heran kalau daerah ini terlihat cukup subur. Istana Al-Hamra berada di Granada pada tempat yang cukup tinggi. Dari kejauhan, tampak sekali bentuk arsitektur bentengnya. Dinding-dinding bata merah yang masif menjulang di tepi-tepinya melindungi istana pada bagian dalam.

Warna merah tampak dominan dalam eksterior bangunan yang merupakan warna dari dinding bata dan genting tanah liat yang dipergunakannya. Oleh karena berwarna merah itulah menjadikannya bernama Al-Hamra.

Istana Al-Hambra dibangun pada tahun 1250 masehi oleh kekhalifahan Nasrid. Pembangunannya berlanjut hingga 250 tahun kemudian. Istana Al-Hamra inimerupakan salah satu simbol jejak kekuasaan penguasa muslim Andalusia yang terakhir, yang akhirnya direbut oleh kekuasaan pasukan Ferdinand dan Isabella of Castile pada tahun 1492.

Saat ini, kompleks Istana Al-Hambra yang sudah ditambah dengan bangunan-bangunan yang dibangun oleh kekuasaan pascakhilafah muslim telah berkembang menjadi obyek wisata yang sangat menarik di Spanyol. Setiap hari, Al-Hamra dikunjungi oleh para wisatawan dari seluruh benua. Oleh karena itu, di sekitar istana pun kemudian dibangun berbagai sarana pariwisata seperti hotel, restoran yang dilengkapi dengan lapangan parkir yang cukup luas.

Namun, sangat disayangkan karena sarana pariwisata ini dibangun terlalu menempel (bahkan berkesan menyatu) dengan kompleks istana akibatnya istana yang seharusnya menjadi point of interest menjadi kurang tampil. Bahkan, bila saja tidak ada petunjuk-petunjuk arah dan arus wisatawan yang menggunakan pemandu, maka pengunjung akan kesulitan mencapai Istana Al-Hamra dengan cepat.

Pintu gerbang masuk kompleks Istana Al-Hamra merupakan bangunan baru yang berfungsi sebagai kantor penjualan tiket masuk, penjualan majalah, booklet dan beragam souvenir. Bangunan baru ini arsitekturnya sangat sederhana, tidak menyesuaikan (apatah lagi mewakili) diri dengan arsitektur istana di dalamnya. Setelah melalui pintu masuk ini, pengunjung segera disambut oleh jajaran pohon–pohon cemara yang tinggi yang diperkirakan sudah berusia cukup tua.

Jajaran pohon cemara kipas ini dibentuk seperti dinding yang berbukaan lengkungan- lengkungan. Taman–taman tumbuh dengan subur di sekitarnya. Sungguh, menampilkan suasana yang asri.

Alur masuk wisatawan menuju istana Al-Hamra diatur sedemikian rupa: dimulai dengan jalur pedestrian yang kedua sisinya cemara–cemara tadi, kemudian menyusuri pedestrian di tepi dinding batas sebelah selatan. Dari sana, lalu menuju sebuah gereja yang dibangun pada abad ke-16. Barulah kemudian menuju ke Istana Charles V, yang dibangun tahun 1526 M, yang saat ini bersama-sama istana Al-Hamra menjadi sebuah museum. Selanjutnya, pengunjung akan mengelilingi benteng hingga naik ke bagian atas. Sebagai klimaksnya, lalu masuk ke dalam Istana Al-Hambra.

Posisi pintu masuk ke dalam Istana Al-Hamra ini sudah mengalami perubahan. Pintu masuk aslinya: dari bangunan benteng sebelah barat melalui halaman taman. Namun, pembangunan Istana Charles V menjadikannya berada di sebelah selatan melalui celah antara istana Al-Hamra dengan istana Charles V.

Celah itu, dahulunya, diperkirakan berfungsi sebagai pintu darurat. Bangunan Istana Charles V yang dibangun belakangan seakan kurang menghargai keberadaan Istana Al-Hambra. Bangunannya yang menempel dan dominasinya dengan skala yang jauh lebih besar sangat tidak memperhatikan axis–axis yang dibuat di Al-Hamra. Bukan hanya tidak memberikan penghargaan yang cukup kepada Al-Hamra, bahkan penempatannya berkesan menutupi dan arogan.

Massa dan ruang-ruang di Al-Hamra tidak terikat pada satu axis (sumbu) yang kuat, tetapi dikembangkan menjadi beberapa axis secara dinamis. Ruang–ruang dibuat mengalir secara dinamis dengan masing–masing ruang dibuat dalam satu unity (kesatuan) yang kuat, yang dibentuk oleh lengkungan pintu dan jendela, ornamen geometrikal dan kaligrafi Arab yang indah.

alhamra5.jpg

Secara keseluruhan, massa bangunan membentuk beberapa innercourt (halaman dalam terbuka). Dua innercourt yang agak besar, yakni: Court of Myrtles dan Court of Lion. Pada Court of Myrtles (di tengahnya terdapat kolam persegi panjang yang diapit oleh deretan tanaman pangkas, dan pada kedua ujungnya terdapat air mancur kecil). dan Court of Lion (di tengahnya terdapat cawan air mancur yang ditopang oleh patung–patung singa). Yang terakhir ini dapatlah dikatakan sebagai klimaks dari rangkaian innercourt tadi.

alhamra3.jpg

Sementara itu, kolom-kolom berbentuk bulatnya terbuat dari bahan alabaster (marmer putih) utuh. Dinding dipenuhi dengan ornamen, yang pada level 130 cm dipenuhi dengan ornamen mosaik dari keramik berglazur warna–warni (hijau, kuning, biru, coklat dan hitam). Ornamen itu membentuk berbagai pola ornamen geometrikal yang indah dan kreatif.

Sementara itu, bagian atas dinding dipenuhi oleh ornamen dengan pola yang sangat imaginatif; serta penuh dengan kaligrafi al-Qur’an dengan tekstur yang sangat halus. Dari rangkaian kaligrafi itu, tulisan “La ilaaha illallah” (tiada ilah selain Allah) dan la ghaliba ilallah” (Hanya Allah satu–satunya penakluk) tampak dominan.

Rupanya, kehadiran dua ornamen kaligrafi itu memiliki kisah tersendiri. Konon, para muslim penakluk kota memasuki kota Granada, sang pemimpin dinobatkan pengikutnya sebagai Al-Ghalib, yang artinya sang penakluk. Tapi, ia menolak sambil mengatakan,“wallah, la ghaliba ilallah”. Kalimat inilah yang kemudian dijadikan motto oleh para penguasa Granada.

Di istana ini, manajemen air dilakukan dengan cara-cara yang sangat apik. Melalui sebuah perhitungan gravitasi yang prima, air dialirkan ke innercourt–innercourt tadi membentuk kolam berair mancur. Air dialirkan dengan saluran tertutup, lalu muncul di ruangan dalam sebagai mata air, yang kemudian dialirkan lagi melalui saluran kecil terbuka menuju kolam innercourt. Hal ini mengingatkan kita pada ayat:“jannatin tajri min tahtih al-anhar” (jannah yang mengalir di bawahnya sungai.

alhamra-2.jpg

 

 

Bahan/Material Bangunan

Ruangan dalam dan innercourt (halaman dalam) menggunakan marmer putih. Sementara itu, plafonnya menggunakan kayu jati yang dibentuk dalam ornamen–ornamen geometris yang indah. Semua bentukan tercipta dengan proporsional dengan skala (human scale) yang dikembangkan dalam imajinasi yang seakan tak terbatas. Jadi, walaupun besar bangunan ruangan tidak berskala monumental, namun menghasilkan karya seni arsitektur yang monumental. Bahkan, dikagumi sebagai salah satu karya masterpiece arsitektur klasik dunia.