jump to navigation

Wagiman: Walikota Sampah ala Yogyakarta March 26, 2008

Posted by sofwan {kalipaksi} in city.
trackback
Ini adalah sebuah kutipan dari buku garapan saya, yang akan segera terbit. Buku itu tentang kiprah puluhan kota di Indonesia yang dianggap sukses mengelola infrastruktur. Salah satunya Kota Yogya, yang dinilai oke di bidang pengelolaan sampah.Yogya memang nampak semakin indah dan bersih di era Walikota Zudiyanto. Ia yang pernah bergelar Wagiman (walikota gila taman) ini tak ingin setengah-setengah dalam membersihkan Yogyakarta dari sampah-sampah. Keseriusannya bukan hanya dibuktikan melalui kebijakan-kebijakan dan penyediaan prasarana dan sarana, tetapi juga melalui sikap-sikapnya.
Ia, misalnya, pernah membagikan gajinya selama dua bulan sebagai walikota kepada para tukang sampah di lapangan. Pasukan kuning itu juga sering diundang makan di kediaman resminya.

“Tidak ada maksud apa-apa, kecuali untuk menunjukkan bahwa peran mereka sungguh penting bagi Yogyakarta. Kalau walikota tidak ada selama dua bulan, pemerintahan ini akan berjalan sebagaimana mestinya, dan lain-lain juga lancar. Tapi, bayangkan, seminggu saja pasukan kuning itu mogok, wah sudah jadi apa kota ini,” aku Zudiyanto.

Si Wagiman bangga menjadi teman bagi para petugas sampah. “Walikota sampah,” andai saja ada yang mau menyebut begitu, Zudiyanto tentu akan menerima julukan itu dengan senang hati. “Saya akan senang. Itu artinya pesan kita sampai ke publik luas, kan?” tutur sang Walikota sembari tertawa. Lebih dari sekadar tindakan rutin, atau empati yang ditunjukkan kepada para petugas sampah, ia ingin warga di kotanya memiliki tanggung jawab terhadap persoalan sampah.

Penanganan sampah, bagi Zudiyanto, tidak sekadar masalah fisik, tapi juga soal nilai. “Kita ingin, semua warga kota Yogya akan menilai orang yang ketahuan membuang sampah secara sembarangan dengan sebutan “katro”, kampungan, kurang berwawasan lingkungan, dan seterusnya,” kata Zudiyanto.

Comments»

No comments yet — be the first.