Dua bulan terakhir ini, sejak blog saya di kalipaksi.wordpress.com rajin saya isi dengan artikel berupa kajian-kajian teologi, berbagai pertanyaan meluncur dari teman-teman saya: “kamu ini sebenarnya fundamentalis atau liberalis?”
Saya jawab, saya bukan kedua-keduanya. Saya hanya mencoba bersikap ilmiah dan logis atas jalan hidup yang saya pilih. Saya hanya mencoba bersikap bijak atas keberagaman yang ada. Toh, dalam kamus saya, tidak ada Islam Fundamentalis atau Islam Liberal. Bagi saya, para penggiat di kedua arus gelombang gerakan itu semuanya saudara.
Hmmmm….lantas seorang teman yang veteran pergerakan bawah tanah bersikap sinis: “Jadi kamu berada di tengah-tengah dong, nggak punya sikap?”
“Sikap saya ya itu tadi….”
Sementara itu, teman-teman yang agak berhaluan liberalis juga bertanya: “jadi, kamu seperti layangan putus, yang ikut arus angin kemana ia berhembus?”
Hmmm…..begini kawan, jawab saya kepada mereka.
“Saya sudah pernah mencoba memetakan berbagai anatomi pergerakan dari dalam. Bukan sekadar mengamati dari luar. Yang fundamentalis sudah, yang agak bergaya liberal juga sudah. Bahkan, yang berhaluan sosialis pun pernah”…
“Jadi kamu seperti intel saja..,” tanya teman pergerakan yang baru setahun ini berkenalan dengan saya.
“ups….no way. Saya bukan orang semacam itu…”
Simpulnya, dari beragai pencarian bentuk anatomi gerakan itu, yang jelas, ada sebuah kemiripan pola metaformosis di semua pergerakan: bahwa ketika gerakan mereka sudah mulai menuai simpati masyarakat, muncul gelombang ekstasi “ananiyah” kelompok (baca: keakuan kelompok), yang kemudian bermuara pada penafian cara atau metode perjuangan kelompok lain. Memang, kasus semacam ini lebih banyak terjadi di level bawah struktur pergerakan. Tapi, fakta itu mau tidak mau harus diakui lahir karena atmosfer kebijakan dari level inti pergerakan.
Misalnya, fenomena kekurangharmonisan antara kader-kader harakah tarbiyah (embrio dari PKS) dan kader-kader NII. Masing-masing pihak merasa bahwa metode jihad kelompok mereka yang paling utuh dan paripurna; yang akan berpialakan kemenangan di ujung perjalanan kelak. Masing-masing kader pun mencoba menelanjangi kelemahan kelompok di luar in-grupnya.
Padahal tahukah anda bahwa sejatinya antara harakah tarbiyah dan NII (atau Darul Islam/TII) itu punya akar yang sama. Bahkan, sang Ketua Majlis Syura PKS Ust. Hilmy Aminuddin dikabarkan juga pernah berkiprah bersama para tokoh NII di masa silam. Bahkan, beliau adalah putra dari Tokoh Gerakan NII: Danu Muhammad Hasan.
Dan tahukah anda, bahwa terjadi kesamaan pola organisasi: sama-sama memiliki Majlis Syuro dan Dewan Syuro, juga lembaga kepresidenan partai (yang di NII bernama Majlis Imamah). Juga kesamaan nomenklatur, seperti kata istilah qoror untuk ketetapan syuro, dan sebagainya.Dan tahukah Anda, bahwa juga terdapat kesamaan prinsip pola pergerakan, yang juga dipagari oleh target-target perekrutan jamaah baru dan penghimpunan dana pergerakan.
Sayangnya, juga terjadi kesamaan perilaku politik di antara kader-kader elite-nya bahwa selain ekstasi ke-ashobiyah-an tadi, juga muncul perilaku menara gading, yang tak berbasis pada keummatan. Misal, perilaku bermewah-mewah para elit pergerakan, sementara jamaahnya terbelit kemiskinan.
Akhirnya, muncul semacam apriori bahwa secantik apapun usaha politik berbaju teologi pada akhirnya akan tercemari oleh silau kemilau uang dan kekuasaan. Dan, sayangnya, pembelaan atas ‘polusi ideologi’ itu kemudian dikemukakan dengan mengajukan Tuhan sebagai figur yang membenarkan alasan-alasan itu.
Bagi saya, Tuhan terlalu suci untuk dijadikan sebagai tameng bagi sebuah pergulatan menuju kemenangan politik sebuah gerakan perjuangan.
Nah, atas dasar apriori itu saya pun berkenalan dengan kelompok pluralisme yang juga mendewakan metode mereka sebagai metode yang paling ampuh di era sekarang ini.
“Ah, sama juga dong: merasa paling OKE”
Akhirnya, menjadi independen, sementara ini menjadi pilihan yang paling rasional sembari terus melakukan pencarian terhadap hakikat kebenaran itu sendiri. Nah, sayangnya, gara-gara ini, saya sempat dicap “free thinker”.
“Awas lho Mas, berbahaya menjadi free thinker,” kata seorang teman memberi peringatan.
Saya bukan free thinker, saya bukan muslim puritan yang fundamentalis, dan saya juga bukan penganut Islam Liberal.
Saya hanya seorang manusia, yang mencoba melakukan pengabdian kepada Ilahi secara wajar dan rasional.
Filed under: pluralisme











Islam sebagai sebuah ideologi dan sistem sosial trus mengalami perpecahan hanya karena gesekan pemahaman, akibatnya agama ini tidak akan pernah solid sehingga berpotensi menjadi lemah, para fundamentalist dengan pemahaman tekstual semata mengaku yang paling benar, para liberalist dengan pemahaman kontekstual yang terkadang trlalu bebas juga mengaku yang paling benar dan logis. Benturan ideologi semacam ini menimbulkan fragmentasi serius dalam tubuh Islam.
Saya setuju dengan sikap anda yang mencoba untuk menjadi rasional, saya melihat anda mencoba mencari benang merah persamaan yang mungkin saja bisa meminimalisir perpecahan.
Masak cuma ada dua jenis Islam: fundamentalis dan liberalis?
good point
Islam itu universal,mengatur kehidupan alam semesta dan seisinya’ satu dengan yang lain saling membutuhkan(interdependensi), tidak dapat berdiri sendiri untuk mengatur kehidupan yang multikultural dan plural. Namun hanya manusia2 yang ikhlas, jujur dan bersih jiwanya seperti apa yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad sebagai Rosul. Tidak melihat sudut apakah fundamentalis atau liberal yang penting tertata oleh aturan kehidupan yang bisa dirasakan secara fitrah oleh manusia sesuai dengan apa yang diciptakan Allah.
numpang nge-link yaa
http://zaytun.blogspot.com/
fundamental yang diprakardao oleh gerakan ikhwanui muslimin, maupun kaum modernis atau islam kontemporer merupakan stimulan yang terbntuk karena rasa ingin mengembalikan kejayaan islam pada abad pertengahan. namun ,media kini ramai memberikan pandangan negtaif kepada kelompok fundamental, bhwa mereka kelompok yang ekstreem ortodok dam dapat mengganggu modernisasi yang jadi mega proyek masyarakat barat.
banyak permasalahan yang harus dituntaskan mengenai konsep iman manusia kepada Tuhan. jika doktrin kekitaan (nahniyah) diberlakukan, bagaimana dengan pertanggung jawaban secara personal kepada thuna ketika kita menhadapnya?
lalu dimana posisi al-quran yang dianggap sebagai hukum abadi?
lalu, mengapa manusia dilarang membuat aturan lain yang berdasar pada rasio berpikir terhadap otak yang di berikan Tuhan kepada kita?bukankah esensi dari kitab Tuhan adalah nilal2 yang bersifat humanisme, salahkah ideologi komunis, liberal, atau sosial-demokrasi?dimana kesemuanya lahir dari sikap prihatin manusia terhadap kondisi lingkungannya?
Anda seperti tali rafia. banyak gunanya,
fleksibel, banyak dicari orang dan sebagainya
tapi rapuh kalau kena angin gampang goyah, melintir
kesana-kemari apalagi kalau diberi beban diluar
kapasitas langsung putus apalagi dialiri listrik
langsung hangus tak tersisa.
Justru itulah yang namanya punya sikap, nggak ikut ikutan.
Kami mengundang Bung Sofwan menjadi juri di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/19/pemilihan-top-posts-september-oktober-2007/
Sebagaimana juri lain, boleh memilih postingan sendiri, boleh pula postingan orang lain. Terima kasih.
hmmm setuju… bagus sekali!
[...] “Kamu ini fundamentalis atau liberalis?” [...]