kalipaksi dot com

Icon

ruang jurnalisme amatiran: lebih baik menulis daripada tidak

Neraka (cerbata #2)

sekadar modifikasi ilustrasi

Sembilan November lalu, dunia memperingati keruntuhan Tembok Berlin. Kenangan tentang masa-masa kejayaan komunisme di Eropa Timur pun kembali disebut-sebut. Salah satunya tentang anekdot-anekdot yang hidup di masa itu. Kompas menuliskannya di sini: Anekdot Era Komunis Tetap Hidup.

Di antara anekdot yang dirilis kembali oleh Kompas, ada satu yang membuat saya tergelitik. Ini kutipannya:

”Mana yang lebih baik, sebuah neraka komunis atau sebuah neraka kapitalis?

Tentu saja jawabannya neraka komunis! Selalu terjadi kelangkaan korek api dan bahan bakar, pemanas selalu rusak, dan para iblis serta makhluk-makhluknya selalu sibuk dengan pertemuan-pertemuan partai”

Saya pun teringat anekdot serupa yang beberapa hari sebelum tulisan di Kompas itu naik cetak membuat tawa sekelompok komunitas meledak. Masih tentang neraka. Sebuah anekdot yang juga lahir karena perasaan ketertindasan.

Read the rest of this entry »

Filed under: cerbata, darul islam, humor, joke/humor , ,

Kiat Surabaya “Melawan” Banjir

Musim penghujan telah tiba. Jakarta pun mulai disesaki dengan genangan air. Banjir adalah momok. Tak hanya bagi Jakarta, tapi juga bagi kota-kota lain. Surabaya merupakan salah satu kota yang tergolong sukses mengantisipasi banjir. Tulisan ini merupakan beberapa kiat kota-kota besar di negeri kita berkelit dari banjir. Ada yang masih berupa ide. Ada yang sudah diterapkan. Ini hanya sebuah catatan, yang pernah dimuat di sebuah majalah bertemakan infrastruktur.

Oh ya, sebagian isi tulisan ini adalah hasil bincang-bincang dengan Cak Bambang DH, Walikota Surabaya, ketika saya ke Surabaya tahun lalu. Thanks Pak Bambang… :-)

Read the rest of this entry »

Filed under: Infrastruktur, Konstruksi, city, kota, metropolitan, sanitasi, tata ruang , , , , , , ,

Hendropranoto tentang Kota yang Harmoni

hendropranoto

foto saya comot dari penataanruang.net

Saya tidak ingin sinical, tapi ada lelucon tapi serius tentang siapa saja yang sering melanggar dokumen perencanaan sebuah kota. Pertama, Kepala Daerah atau orang pemerintahan yang tidak begitu mengerti dampak dari sebuah pelanggaran terhadap sebuah perencanaan kota. Kedua, orang yang punya banyak uang, yang dengan uangnya bisa membangun apa saja meski itu melanggar perencanaan. Ketiga, orang yang punya pangkat, yang dengan pangkatnya dan kekuasaannya membuat ia bisa membangun sebuah bangunan, misalnya, meskipun itu melanggar peruntukan. Dan keempat, planner itu sendiri, yang tidak memiliki sikap tegas pada produk rencana yang ia sudah yakini dibuat secara benar.

Nama Hendro Pranoto sangat identik dengan sejarah pembangunan perkotaan di negara ini, khususnya dalam konteks pembangunan prasarana kota terpadu, yang kemudian terkenal sebagai Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (P3KT). Di masa masih menjadi mahasiswa dulu, saya sudah mengagumi beliau, melalui buku-buku beliau. Salah satu buku beliau yang hingga kini masih saya koleksi adalah tentang P3KT.

Meski sudah pensiun sebagai PNS Departemen Pekerjaan Umum, di usianya yang sudah lewat sembilan windu, Hendropranoto masih aktif memberikan sumbangsih tenaga dan pikiran dalam derap pembangunan perkotaan di negeri ini. Beberapa bulan lalu, di sebuah bilik ruangan yang terletak di lingkungan Ditjen Cipta Karya, saya menemuinya untuk sebuah wawancara. Wawancara itu kemudian dimuat oleh Majalah KIPRAH, tentang bagaimana sekilas sejarah pembangunan prasarana perkotaan yang pernah berlangsung di negeri ini. Berikut petikannya:

Read the rest of this entry »

Filed under: Infrastruktur, architecture, city, tata ruang , , , , , ,

Wicaksono Sarosa

WICAKSAROSA 01

Dari “Fresh from Java” ke “International Knowledge-Worker”

Icon, begitu ia biasa disapa oleh saudara dan kawan-kawan sekolahnya, meski kemudian di dunia pekerjaan lebih sering dipanggil sebagai Wicak. Semasa di ITB, ia pernah dijuluki oleh bebrapa teman-temannya sebagai “fresh from Java” karena gayanya, terutama gaya bicaranya, yang sangat Jawa. Singkat kata, nuansa Jawa-nya “medok banget” ketika itu. Tapi, siapa sangka, perjalanan hidup Wicaksono Sarosa kemudian membawanya menjadi seorang instruktur pelatihan dan “knowledge-worker” di bidang perencanaan daerah yang berkelanjutan, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di berbagai tempat di luar negeri.

***

Read the rest of this entry »

Filed under: architecture, biografi, metropolitan, profesi, tata ruang , , , , ,

member of:

free counters